Ekonomi Tumbuh 5 Persen, Istana: Ada Tiga Indikator

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelum memimpin rapat terbatas tentang perkembangan implementasi program pengentasan kemiskinan di Kantor Presiden, Jakarta, 25 Juli 2017. Presiden meminta agar program tersebut menjangkau 40 persen penduduk lapisan terbawah. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelum memimpin rapat terbatas tentang perkembangan implementasi program pengentasan kemiskinan di Kantor Presiden, Jakarta, 25 Juli 2017. Presiden meminta agar program tersebut menjangkau 40 persen penduduk lapisan terbawah. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta -Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika mengatakan bahwa perekonomian Indonesia yang tercatat tumbuh 5,17 persen pada 2018 merupakan prestasi karena dicapai ketika kondisi global sedang diliputi ketidakpastian. "Ombak tinggi ekonomi berhasil dilalui dengan mengesankan," kata Erani dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019.

    BACA: Ekonomi Tumbuh 5,17 Persen, BPS Sebut Ditopang Konsumsi

    Erani mengatakan pencapaian pertumbuhan ekonomi tersebut juga disertai oleh penurunan tiga indikator yang terkait dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yaitu angka kemiskinan, pengangguran, maupun ketimpangan.

    Jumlah penduduk miskin yang tercatat 25,67 juta orang atau setara 9,66 persen, merupakan yang terendah dalam sejarah karena dapat mencapai single digit, dibandingkan periode sebelumnya yang berada pada kisaran 10-11 persen.

    "Menekan angka kemiskinan hingga di bawah dua digit bukanlah pekerjaan mudah, karena pemerintah dihadapkan pada struktur kemiskinan kronis. Tapi misi ini tidak boleh gagal," ujar Erani.

    Tingkat pengangguran terbuka juga menurun dari sebelumnya pada 2014 sebesar 5,94 persen menjadi 5,3 persen di 2018, karena adanya penciptaan lapangan kerja, dengan porsi pekerja formal meningkat dari 40 persen pada 2014 menjadi 43 persen pada 2018.

    Selain itu, ketimpangan pendapatan bergerak melandai yang terlihat dari gini rasio pada 2014 mencapai 0,41 menjadi 0,38 pada 2018 yang sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah.

    Ia menambahkan pencapaian ini juga didukung upaya dalam mengendalikan laju inflasi, berbagai program untuk menjaga daya beli dan pertumbuhan sektor padat kerja serta pelaksanaan instrumen fiskal yang telah bermanfaat untuk meningkatkan kinerja pembangunan.

    BACA: Sri Mulyani Disebut Pencetak Utang, Jokowi: Belum Ngerti Ekonomi

    Erani menjelaskan bahwa pencapaian angka pertumbuhan di atas lima persen itu diraih ketika negara-negara maju dan berkembang seperti Cina, Korea Selatan, India, dan Malaysia mengalami penurunan kinerja ekonomi pada akhir tahun.

    Ia memaparkan pertumbuhan ekonomi Cina tercatat turun dari 6,9 persen pada 2015 menjadi 6,5 persen pada akhir 2018. Hal serupa juga diikuti pertumbuhan ekonomi India yang turun dari 7,4 persen pada 2015 menjadi 6,7 persen pada akhir 2018.

    "Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia justru naik, dari 4,88 persen pada 2015 menjadi 5,17 persen pada 2018. Jadi, kita terbang saat negara lain menukik turun," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.