Di Belgia, Kemendag Soroti Akses Sawit ke Pasar Uni Eropa

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker (tengah), menyampaikan pidato State of Union-nya di Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis, Rabu, Sept.12, 2018. (Foto AP / Jean-Francois Badias)

    Ketua Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker (tengah), menyampaikan pidato State of Union-nya di Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis, Rabu, Sept.12, 2018. (Foto AP / Jean-Francois Badias)

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia dan Uni Eropa (UE) kembali bertemu dalam Working Group on Trade and Investment (WGTI) ke-9 di Brussel, Belgia, untuk membahas isu terkini yang dimiliki kedua negara di bidang perdagangan dan investasi.

    Baca juga: Uni Eropa Tunda Larangan Sawit, Kemendag: Jangan Ada Diskriminasi

    "Dalam WGTI ini dibahas berbagai isu teknis terkait implementasi kebijakan yang membutuhkan perhatian khusus kedua pihak dalam mendorong kelancaran bisnis dan investasi," kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo lewat keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019.

    Imam menyampaikan bahwa tidak semua isu yang dibahas dapat diselesaikan permasalahannya. Namun setidaknya kedua pihak dapat bertukar informasi dan mencari solusi bersama. Selain itu, forum ini diharapkan dapat mendukung proses perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) yang saat ini berlangsung.

    Dalam pertemuan tersebut, Imam menjadi pimpinan delegasi asal Indonesia. Sedangkan delegasi UE dipimpin Deputy Director General for Trade European Commission, Helena K nig.

    Iman mengungkapkan salah satu isu yang diangkat Indonesia adalah akses pasar kelapa sawit ke pasar UE. Keputusan parlemen untuk UE menghentikan kontribusi biofuel berbasis minyak kelapa sawit dalam proses perombakan arahan energi terbarukan (RED Recast) menciptakan keprihatinan serius dan menimbulkan reaksi yang sangat kuat dari para pemangku kepentingan di Indonesia.

    Pada kesempatan ini, Indonesia mengangkat isu standar sanitasi dan fitosanitasi yang dikenakan UE untuk berbagai produk impor seperti teh, kokoa. Indonesia juga membahas usulan kebijakan mekanisme penyaringan investasi di negara-negara UE.

    Sementara UE menyampaikan beberapa permasalahan terkait kebijakan perdagangan dan investasi Indonesia seperti regulasi domestik terkait izin impor produk hortikultura dan ternak, daftar negatif investasi (DNI), serta kebijakan penetapan standar Indonesia seperti standar nasional Indonesia (SNI) dan halal.

    Total perdagangan kedua negara mencapai US$ 28,9 miliar. Selama lima tahun terakhir, neraca perdagangan kedua pihak menunjukkan surplus bagi Indonesia. Sementara nilai investasi Uni Eropa di Indonesia mencapai US$ 3,2 miliar.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.