Airlangga Komentari Soal Plastik: Bukan Sampah, Tapi Bahan Baku

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong (kiri) dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat ditemui usia acara Indonesia Economic and Investment Outlook 2019 bersama Uni Eropa di Kantor BKPM, Jakarta Selatan, Rabu, 6 Februari 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong (kiri) dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat ditemui usia acara Indonesia Economic and Investment Outlook 2019 bersama Uni Eropa di Kantor BKPM, Jakarta Selatan, Rabu, 6 Februari 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memamerkan capaian pertumbuhan dari lima besar sektor industri selama kuartal III 2018, di hadapan pejabat dan pengusaha Uni Eropa. Dari lima sektor tersebut, Airlangga mengatakan industri plastik dan karet mampu mencetak pertumbuhan nomor wahid dengan capaian dua digit yaitu 12,34 persen.

    Baca: Cerita Saksi Pekerja Tewas Jatuh ke Mesin Pencacah Sampah Plastik

    "Lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional," kata dia saat memberikan pidato di acara Indonesia Economic and Investment Outlook 2019 bersama Uni Eropa di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta Selatan, Rabu, 6 Februari 2019.

    Setelah memamerkan capaian tersebut, Airlangga justru mendapat pertanyaan dari salah satu peserta acara. "Bagaimana Indonesia mengatasi persoalan sampah plastik yang telah menjadi isu global, di saat Industri plastik dalam negeri justru tumbuh tinggi?" kata salah seorang peserta acara.

    Mendapat pertanyaan tersebut, Airlangga langsung menjelaskan bahwa plastik sebenarnya sama dengan industri lainnya. Untuk diketahui, kata Airlangga, plastik telah menjadi komponen pendukung dari banyak industri lainnya seperti bumper pada mobil hingga fiber pada pakaian. "Plastik itu bukan sampah, plastik itu raw material (bahan baku)," ujarnya.

    Airlangga mengatakan persoalan sampah plastik adalah isu waste management alias pengolahan sampah. Untuk mengurangi sampah plastik, kata dia, tidak berarti harus menutup industri plastik, namun dengan memperbaiki tata kelolanya.

    Salah satunya dengan membentuk unit daur ulang sampah plastik seperti yang dilakukan industri aluminum yang mendaur ulang alumunium bekas. Walhasil, kata dia, 75 persen alumunium yang ada di dunia ini ternyata merupakan hasil recycle alias daur ulang. "Jadi kita harus lihat dengan perspektif yang berbeda," ujarnya.

    Untuk diketahui, isu sampah plastik memang terus menjadi perhatian publik di Indonesia, maupun di tataran global. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pernah mengatakan bahwa Indonesia tercatat menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia.

    Susi menjelaskan saat ini jumlah sampah plastik telah mencapai angka 3,2 juta ton. Jumlah ini diperkirakan bertambah menjadi sekitar 30 juta ton pada 10 tahun mendatang. Jumlah tersebut, kata Susi, bisa melebihi jumlah ikan di lautan Indonesia yang telah mencapai 28 juta ton.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Riuh Penguasaan Lahan Melibatkan Kubu Jokowi dan Prabowo

    Serangan Jokowi kepada Prabowo pada Debat Pilpres putaran kedua memantik keriuhan. Jokowi menyebut lahan yang dimiliki Prabowo di Kalimantan dan Aceh.