Apindo: Investasi Industri Manufaktur Melambat di Tahun 2018

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat acara Peresmian Pembukaan Indonesia Industrial Summit Tahun 2018 dan Peluncuran

    Presiden Joko Widodo bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat acara Peresmian Pembukaan Indonesia Industrial Summit Tahun 2018 dan Peluncuran "Making Indonesia 4.0" di JCC, Senayan, Jakarta, 4 April 2018. Industri 4.0 adalah menyiapkan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan untuk memperkuat fundamental struktur industri Tanah Air. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyebut pertumbuhan industri di tahun lalu tak terlalu mencolok. Hal ini sedikit banyak ikut mempengaruhi penjualan listrik Perusahaan Listrik Negara (Persero) secara keseluruhan. 

    Simak: Industri Fintech Perluas Sumber Pendanaan

    "Kegiatan industri, khususnya investasi untuk industri manufaktur melambat. Tapi tak berarti tak ada kegiatan baru yang meningkat," ujar Ketua Bidang Properti dan Kawasan Ekonomi APINDO, Sanny Iskandar, Rabu 30 Januari 2019.

    Sektor industri merupakan salah satu penyumbang terbesar penjualan listrik, di bawah sektor rumah tangga. Pada 2017 saja, pendapatan dari sektor industri mencapai Rp 71 triliun, sedangkan rumah tangga Rp 90,57 triliun. Padahal dari segi pelanggan, pada tahun yang sama, pelanggan sektor industri hanya berjumlah 74.860. Sedangkan pelanggan rumah tangga mencapai 62 juta lebih.

    Sanny mengatakan perlambatan ekonomi ini tak hanya terjadi di Indonesia. Ia juga menilai kebijakan beberapa negara yang memilih untuk lebih mendahulukan industri dalam negeri, juga ikut berkontribusi.

    Hal ini terutama paling terlihat di sektor industri manufaktur. "Penyerapan supply daya listrik memang dari manufaktur. Yang paling besar dari sektor ini," kata Sanny.

    Dari data Bank Indonesia (BI), kinerja industri di triwulan 4 tahun lalu memang sempat menurun. Data Prompt Manufacturing Index (PMI) BI di triwulan IV 2018 hanya sebesar 51,92 persen. Indeks ini lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 52,02 persen.

    Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa sepakat bahwa penyebab utama turunnya penjualan listrik ini karena adanya penurunan permintaan listrik dari sektor industri. "Permintaan listrik di industri itu turun sejak 2012. Tetap ada permintaan yang baru, tapi dia grafisnya turun," kata Fabby.

    Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar membantah kinerja sektor industri stagnan. Justru Haris mengatakan sepanjang 2018 pertumbuhannya naik sekitar 5,1 persen. Meski begitu, Haris mengakui ada kemungkinan konsumsi listrik memang tak terlalu menonjol. "Kemungkinan banyak investasi besar yang menggunakan listrik sendiri," kata Haris.

    Sebelumnya, PLN menyatakan belum dapat memenuhi target pertumbuhan penjualan listrik sebesar 7 persen di tahun lalu. Sepanjang 2018, perusahaan pelat merah itu mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,15 persen saja, atau tumbuh dari 225 TerraWatt/jam di 2017 menjadi jadi 232 TerraWatt/Jam di 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wacana Liberalisasi Penerbangan, Pemerintah Undang Maskapai Asing

    Pemerintah membuka wacana liberalisasi penerbangan dengan mengundang maskapai asing untuk mengoperasikan rute domestik demi memperketat kompetisi.