BKPM Gagal Capai Target Realisasi Investasi 2018

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong dan Direktur Eksekutif Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Sinthya Roesly dalam acara penandatanganan nota kesepahaman di Kantor LPEI, Sudirman, Jakarta Selatan, Senin, 29 Oktober 2018. Tempo/Fajar Pebrianto

    Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong dan Direktur Eksekutif Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Sinthya Roesly dalam acara penandatanganan nota kesepahaman di Kantor LPEI, Sudirman, Jakarta Selatan, Senin, 29 Oktober 2018. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) gagal mencapai target investasi pada 2018. Realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia sepanjang tahun lalu hanya mencapai Rp 721,3 triliun alias sekitar 94 persen dari target.

    Baca juga: Sri Mulyani: Stabilitas Keuangan Dijaga untuk Dorong Investasi

    "Langsung kelihatan dari data bahwa untuk tahun fiskal 2018 kita tidak berhasil mencapai target," ujar Kepala BKPM Thomas Tri Kasih Lembong di Gedung BKPM, Jakarta, Rabu, 30 Januari 2019. Adapun target realisasi investasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah adalah sebesar Rp 765 triliun. Kendati demikian capaian itu naik sebesar 4,1 persen dibandingkan tahun 2017.

    Apabila dirinci, total realisasi investasi PMDN 2018 mencapai Rp 328,6 triliun atau naik sebesar 25,3 persen dibandingkan 2017 sebesar Rp 262,3 triliun. Sedangkan total realisasi investasi PMA 2018 adalah sebesar Rp 392,7 triliun, turun 8,8 persen dibandingkan realisasi investasi PMA 2017 sebesar Rp 430,5 triliun.

    ”Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa realisasi tahun 2018 ini merupakan cerminan dari upaya tahun sebelumnya," kata Lembong. "Kurangnya eksekusi implementasi kebijakan pada tahun lalu berimbas pada perlambatan investasi di tahun ini, disamping adanya hambatan dari faktor eksternal."

    Belum lagi, Lembong menyebut transisi perizinan ke sistem Online Single Submission sedikit banyak mempengaruhi tren perlambatan investasi di tahun ini. Namun ia percaya realisasi investasi selanjutnya akan meningkat dengan adanya pembenahan sistem OSS dan kebijakan pro investasi yang lebih nendang dari tahun sebelumnya.

    Berdasarkan sektor usaha, lima besar realisasi investasi adalah sektor Listrik, Gas, dan Air sebesar Rp 117,5 triliun atau 16,3 persen, Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi sebesar Rp 94,9 triliun atau 13,1 persen; Pertambangan sebesar Rp 73,8 triliun, atau 10,2 persen, Industri Makanan sebesar Rp 68,8 triliun atau 9,5 persen, dan Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran sebesar Rp 56,8 triliun atau 7,9 persen.

    ”Realisasi investasi selama tahun 2018 didominasi oleh sektor infrastruktur seperti pembangkit listrik, jalan tol dan telekomunikasi," ucap Lembong.

    Dengan berkembangnya industri telekomunikasi, ia mengharapkan di tahun tahun mendatang industri yang berbasis teknologi digital dan beberapa bisnis rintisan dan unicorn lain dapat terus tumbuh. "Hal ini yang menjadi pertimbangan kami untuk memberikan fasilitas fiskal berupa tax holiday untuk industri ekonomi digital."

    Baca berita investasi lainnya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.