Ada Risiko Global, Sri Mulyani: KSSK Perkuat Sinergi 4 Kebijakan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sri Mulyani. Indrawati. Instagram.com/@smindrawati

    Sri Mulyani. Indrawati. Instagram.com/@smindrawati

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan pihaknya merespons risiko perekonomian dengan cara memperkuat sinergi empat kebijakan. 

    Baca: Prabowo Sebut Menkeu Pencetak Utang, Kemenkeu: Jangan Menyesatkan

    Risiko perekonomian itu berasal dari risiko global seperti pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia, normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat maupun potensi sengketa dagang negara Abang Sam itu dengan Cina. Selain itu ada juga risiko yang berasal dari dalam negeri yakni kemungkinan defisit neraca perdagangan maupun neraca transaksi berjalan yang membesar serta segmentasi likuiditas. 

    Adapun keempat kebijakan yang diperkuat sinerginya adalah fiskal, moneter, makroprudensial dan mikroprudensial. "Menyikapi hal tersebut, KSSK memperkuat sinergi kebijakan fiskal, moneter, makroprudensial dan mikroprudensial untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi," kata Sri Mulyanikeuangan, Selasa, 29 Januari 2019.

    Sri Mulyani yang juga menjabat sebagai menteri keuangan ini menjelaskan, KSSK terus mencermati risiko global maupun domestik meski stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan dalam kondisi normal. "KSSK mencermati beberapa potensi risiko, baik yang berasal dari perekonomian global maupun domestik," katanya.

    Dalam kesempatan ini ikut hadir Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Halim Alamsyah.

    Dalam kesempatan ini, KSSK menyatakan stabilitas sistem keuangan pada triwulan IV-2018 dalam keadaan baik dan terjaga. Dalam bidang fiskal, APBN 2018 telah ditutup dengan kinerja yang baik melalui defisit lebih kecil, penerimaan negara di atas target dan belanja negara yang sehat.

    Di bidang moneter, Bank Indonesia mengoptimalkan bauran kebijakan untuk pengendalian inflasi dan stabilitas nilai tukar serta memperkuat koordinasi untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan. Dalam sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK terus memperkuat kebijakan dan pengawasan terhadap sektor keuangan agar dapat meningkatkan peran sebagai motor penggerak pertumbuhan.

    Sedangkan, Lembaga Penjaminan Simpanan atau LPS terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap tren perkembangan suku bunga simpanan perbankan yang masih menunjukkan tren peningkatan. KSSK juga telah menyepakati rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan setelah melaksanakan simulasi pencegahan krisis.

    Baca: Temui JK, Sri Mulyani Lapor Evaluasi Perpajakan 2018

    Untuk mengatasi perkembangan perekonomian tahun 2019, KSSK terus memperkuat sinergi dan koordinasi antar anggota, memperkuat sekretariat melalui perbaikan tata kelola dan mengintesifkan komunikasi publik. Menurut rencana, KSSK akan kembali menyelenggarakan rapat berkala untuk memantau perkembangan ekonomi triwulan I-2019 pada April.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?