Citilink Bidik Pertumbuhan Pendapatan 23 Persen Pada 2019

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kedatangan Pesawat Ke-40 CitilinkPesawat baru milik maskapai Citilink jenis Airbus 320 tiba di hanggar 4 GMF, di Tangerang, Banten, 25 September 2016. Pesawat baru itu didatangkan untuk memperkuat armada dan meningkatkan market share di kelas budget airlines, serta mendukung ekspansi bisnis Citilink ke timur Indonesia. Foto: citilink

    Kedatangan Pesawat Ke-40 CitilinkPesawat baru milik maskapai Citilink jenis Airbus 320 tiba di hanggar 4 GMF, di Tangerang, Banten, 25 September 2016. Pesawat baru itu didatangkan untuk memperkuat armada dan meningkatkan market share di kelas budget airlines, serta mendukung ekspansi bisnis Citilink ke timur Indonesia. Foto: citilink

    TEMPO.CO, Jakarta - Citilink Indonesia menargetkan kenaikan pendapatan korporasi sebesar 23 persen pada tahun 2019. Salah satu cara untuk mencapai target itu adalah dengan meningkatkan ancillary atau pendapatan sampingan di luar bisnis utama maskapai.

    Simak: Tarif Bagasi Citilink Resmi Berlaku Awal Februari

    "Di dalam industri penerbangan murah atau LCC, ancillary adalah sumber pendapatan baru, bukan hanya dari penumpang," ujar Direktur Niaga Citilink Indonesia Benny Rustanto di Auditorium Garuda Indonesia, Jakarta, Senin, 28 januari 2019. 

    Saat ini, sektor ancillary dari maskapai pelat merah itu antara lain adalah dengan menjual makanan minuman, merchandise, jaringan WiFi,  hingga iklan selama penerbangan. "Itu adalah salah satu cara kami bisa menambah pemasukan, supaya target kami tercapai," kata Benny. Perseroan menargetkan pemasukan sektor ancillary dan kargo sebesar 11 persen dari pemasukan sektor penumpang, dengan komposisi 5 persen ancillary dan 6 persen kargo.

    Adapun pendapatan di sektor penumpang tahun ini ditargetkan naik 25 persen ketimbang tahun lalu. Untuk itu, target jumlah penumpang maskapai juga naik menjadi 17 juta penumpang, setelah tahun lalu mencapai 15 juta. Di samping itu, perseroan juga akan mendatangkan pesawat baru, serta membuka rute anyar di regional dan domestik. "Kami akan memperbanyak buka rute regional, misalnya Singapura, Vietnam, Korea, Australia, Jeddah, dibandingkan bermain domestik," ujar Benny. 

    Ia berujar, rute regional menjadi incaran maskapai lantaran saat ini perseroan tengah memperbanyak pemasukan dalam bentuk dolar. Pasalnya, selama ini biaya operasional penerbangan lebih banyak menggunakan mata uang asing ketimbang rupiah. "Kami sudah cukup naik di domestik, sekarang melebarkan sayap ke regional," kata dia. "Surabaya-Kuala Lumpur mulai 30 Januari, Banyuwangi-Kuala Lumpur sudah terbang Desember, Surabaya-Pineng tahun lalu, nanti Vietnam, Kamboja, dan negara lainnya."

    Sebelumnya, Citilink mengumumkan segera memberlakukan kebijakan pengenaan biaya bagasi untuk setiap penerbangan domestik mulai Jumat, 8 Februari 2019. Direktur Niaga Citilink Indonesia Benny Rustanto mengatakan pengenaan biaya itu diperlukan untuk memastikan kualitas layanan di tengah ketatnya persaingan di industri penerbangan.

    Meski bagasi untuk maskapai pelat merah itu tidak lagi gratis, Benny mengatakan penumpang masih diperbolehkan untuk membawa satu buah barang bawaan ke dalam kabin dengan berat maksimal 7 kilogram dan dimensi maksimal 58 centimeter x 46 centimeter x 23 centimeter tanpa biaya tambahan. Adapun penumpang Citilink yang telah membeli tiket sebelum tanggal 8 Februari 2019 masih berhak mendapatkan bagasi gratis hingga 20 kilogram meski untuk jadwal penerbangan melebihi tanggal tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.