Konstruksi Jalan Tol Jakarta Cikampek II Selatan Dimulai Februari

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial suasana kemacetan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Bekasi, Jawa Barat, Jumat 23 November 2018. Kementerian Perhubungan akan mengatur secara bergantian jadwal pengerjaan proyek pembangunan jalan tol layang, LRT dan kereta api cepat Jakarta-Bandung yang berada di Tol jakarta-Cikampek agar dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di jalan tol tersebut. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    Foto aerial suasana kemacetan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Bekasi, Jawa Barat, Jumat 23 November 2018. Kementerian Perhubungan akan mengatur secara bergantian jadwal pengerjaan proyek pembangunan jalan tol layang, LRT dan kereta api cepat Jakarta-Bandung yang berada di Tol jakarta-Cikampek agar dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di jalan tol tersebut. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Bandung -Direktur Utama PT Jasamarga Japek Selatan atau JJS, Dedi Krisnariawan Sunoto mengatakan serangkaian lelang untuk memulai pengerjaan jalan tol Jakarta Cikampek II Selatan ditargetkan tuntas bulan ini.

    BACA: Tarif 6 Ruas Tol Trans Jawa Ditetapkan, Ada Diskon Jarak Jauh

    “Lelang sudah jalan, sudah sampai tahap akhri. Akhir bulan ini akan keluar penetapannya. Sebagian sudah pengumuman. Intinya awal Februari (2019) kami akan kontrak dan kami akan segera siap untuk mulai konstruksi,” kata dia di Gedung Sate, Bandung, Kamis, 24 Januari 2019.

    Dedi mengatakan, konstruksi jalan tol dibagi dalam tiga paket. Paket yang pertama akan dikerjakan pada Paket 3 yakni dari Sadang menuju Taman Mekar sepanjang 27,85 kilometer. Pengerjaan akan dimulai di areal Sadang. “Kami mulai konstruksi di Sadang dulu karena lahannya sudah ada lahan (Jasa Marga) Cipularang di Sadang, sekitar 40-an hektare ada di situ,” kata dia.

    Dedi menjanjikan, pengerjaan Japek II Selatan di Sadang tidak akan mengganggu pengguna jalan tol di Sadang. “Bisa dibuat manajemen trafik. Pasti tidak akan kami kurangi, jumlah lajurnya tetap. Cuma di situ agak belok dikit saja. Ganggunya hanya itu. Yang semula lurus, agak belok dikit,” kata dia.

    BACA: Proyek Jalan Tol Jakarta - Cikampek Elevated Dilanjutkan Lagi

    Dedi mengatakan, dirinya sengaja menemui Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa di Gedung Sate untuk membahas sejumlah persiapan untuk memulai konstruksi. Diantaranya soal dokumen Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) yang tengah diproses di Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat. “Kami koordinasi dalam rangka persiapan tadi. Terutama terkait dengan Amdal yang sudah tahap akhir. Harapannya sebelum konstruksi harus sudah keluar,” kata dia.

    Dedi mengatakan, JJS sudah mengantungi Penetapan Lokasi untuk Jalan Tol Cikampek II Selatan sejak 30 November 2018. Penetapan lokasi tersebut mencakup 4 kabupaten, dan 2 kota, tersebar di 37 kelurahan/desa. “BPN sudah ekspose 10 Januari 2019 lalu. Diharapkan segera keluar pelimpahannya pada Kantor Pertanahan di 4 kabupaten dan 1 kota. Kalau sudah, pembebasan lahan akan seesegera mungkin,” kata dia.

    Menurut Dedi JJS sudah menyiapkan dana talangan Rp 4,162 triliun berasal dari sindikasi perbankan untuk pembebasan lahan. Perjanjian pembiayaan dana talangan itu sudah diteken pada 28 Desember 2018 lalu. Dana tersebut ditaksir cukup untuk menuntaskan pembebasan lahan jalan tol Cikampek II Selatan. “Nanti (dana talangan) akan dikembalikan oleh dana LMAN (Lembagan Manajemen Aset Negara),” kata dia.

    Dedi mengatakan, dana talangan tersebut akan difokuskan untuk pembebasan lahan proyek Japek II Selatan untuk Paket 3 dan Paket 2 dari Sadang sampai Setu sepanjang 52 kilometer. Sementara Paket 1 dari Setu menuju Jatiasih, diperkirakan masih membutukan waktu. “Kami dengan BPN sepakat fokus yang 52 kilomeer dari Sadang sampai Setu. Untuk Paket 1 dari Setu ke Jatiasih banyak perumahan, jadi agak memerlukan waktu,” kata dia.

    Dedi mengaku, pembebasan lahan bukan satu-satunya masalah yang dibahas bersama Sekda Jawa Barat. Pembicaraan itu juga menyepakti percepatan persiapan syarat pinjam pakai lahan Perhutani sepanjang 10,5 kilometer yagn ada di rute yang akan dikerjakan di Paket 3, dari Sadang menuju Taman Mekar. “Kmai rapat koordinasi ini,” kata dia.

    Proses pinjam pakai lahan hutan tersebut membutuhkan Surat Rekomendasi Gubernur Jawa Barat serta rekomendasi teknis Perhutani sebagai syarat pengajuan izin pinjam pakai kawasan hutan yang akan dilayangkan pada Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (LHK). Paralel JJS juga tengah memproses izin penggunaan lahan di Sungai Cisadane pada BBWS Cisadane Kementerian PUPR.

    Dedi mengatakan, pengerjaan Paket 3 (Sadang-Taman Mekar), serta Paket 2 (Sadang-Setu) sengaja agar jalan tol tersebut bisa langsung tersambung dengan jalal tol Jakarta Outer Ring Road II Cimanggis Cibitung di Setu. “Kalau ini jadi, akan tersambung. Sudah bisa berfungsi sebagai jaringan,” kata dia. “Dari Jakarta dan Tanggerang bisa masuk JORR II ke Japek II Selatan. Dari Jagorawi masuk JORR II masuk Japek II Selatan. Demikian dari Jakarta-Cikampek, mau lewat sini juga bisa.”

    JJS menargetkan pengerjaan jalan tol Japek II Selatan Paket 3 tuntas dan bisa beroperasi pada 2020. Sementara Paket 2 ditargetkan di Semester 1 tahun 2021. “Total akhir 2021 selesai. Kalau masih bisa kami kejar awal 2021, kami coba kejar. Cuma tergantung pembebasan tanah,” kata Dedi.

    Dedi mengaku, investasi membangun jalan tol Japek II Selatan ditaksir menembus Rp 12,5 triliun. “Kami juga mengerjakan jalan tol di Sumatera. Kalau dengan Sumatera kira-kira Rp 14,7 triliun. Kira-kira untuk yang di sini (Japek II Selatan) sekitar Rp 12,5 triliun,” kata dia.

    Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa mengatakan, pemerintah Jawa Barat akan membantu proses pengerjaan proyek Japek II Selatan yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). “Pemerintah provinsi akan membantu sepenuhnya terkait percepatan pembangunan jalan tol,” kata dia, Kamis, 24 Januari 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.