JK Sebut Anomali di RI, Orang Kaya Tinggal di Tengah Kota

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memberi keterangan pada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, 20 Desember 2018. TEMPO/Ahmad Faiz

    Wakil Presiden Jusuf Kalla saat memberi keterangan pada wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, 20 Desember 2018. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK mengatakan perlunya membangun apartemen di pusat kota yang dekat dengan lokasi kerja. "Kalau tidak, orang yang kerjanya di Jakarta tapi tinggalnya di Tangerang atau di luar lagi maka akibatnya dia tidak bisa meningkatkan kesejahterannya," kata JK dalam acara Indonesia Development and Business Summit di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa, 22 Januari 2019.

    Baca: Setelah LRT Jabodebek, JK Kritik Proyek Kereta Trans Sulawesi

    JK mengatakan, selama ini ada suatu kondisi di daerah Ibu Kota yang berbanding terbalik dengan di luar negeri pada umumnya. Kondisi yang dimaksud yaitu orang kaya di luar negeri tinggal di luar kota dan orang tidak mampu tinggal di apartemen dalam kota. "Kalau kita sebaliknya. Orang kaya tinggal di kota, orang yang tidak mampu di pinggir kota," ujarnya.

    Karena banyaknya orang tidak mampu tinggal di pinggir kota itu, kata JK, mereka harus mengeluarkan biaya transportasi lebih mahal. Walhasil mereka tidak bisa meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

    Menurut JK, hal itu bisa diperbaiki dengan penyiapan lahan untuk membangun apartemen bagi orang tidak mampu yang bekerja di pusat kota. "Kita tanggung jawab gubernur secara bersama-sama, selama gubernur bisa menyiapkan lahan pasti," kata dia.

    Pasar properti yang kian booming di pinggiran kota tak hanya berisi perumahan, tapi juga untuk industri retail. Konsultan properti internasional, Jones Lang LaSalle (JLL), sebelumnya menyatakan kebijakan moratorium pembangunan mal di wilayah Jakarta sejak 2011 tak menyurutkan ekspansi sektor retail. Sektor retail tetap berekspansi dan meluas ke pinggiran Ibu Kota.

    "Moratorium tersebut tidak mempengaruhi lokasi di luar batas Kota Jakarta. Kota-kota yang terbentang di sebelah barat, timur, dan selatan Kota Jakarta menawarkan peluang ekspansi," kata Head of Research JLL Indonesia James Taylor dalam rilis yang diterima di Jakarta, Senin, 19 Maret 2018.

    James memperkirakan pasokan pusat perbelanjaan ke depan tidak akan berubah dengan hanya satu penyelesaian retail perdana lain yang diharapkan tuntas selama jangka waktu lima tahun ke depan. Contohnya, perluasan Pondok Indah Mall di Jakarta Selatan, yang berada di tengah-tengah komunitas perumahan menengah ke atas, diperkirakan akan dicapai pada 2019.

    Baca: JK Sebut Nilai LRT Mahal, Adhi Karya: Sudah Disetujui Kemenhub

    "Pengembang yang mencari pijakan di pasar dapat terus menggali peluang di kota-kota di Jakarta Raya atau di kota-kota lapis kedua dan ketiga yang tidak terpengaruh oleh pembatasan pasokan," ucap James.

    Simak berita lainnya terkait JK di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.