Geram dengan Mafia Pupuk, Amran Sulaiman: Produksi Petani Hancur

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyiram bibit tanaman cabai saat meninjau lahan di bantaran Banjir Kanal Timur (BKT) di Duren Sawit, Jakarta Timur, 14 Juli 2018. Potensi lahan pertanian di sekitar BKT dapat dikelola menjadi kawasan ramah pangan lestari (KRPL) agar bisa memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyiram bibit tanaman cabai saat meninjau lahan di bantaran Banjir Kanal Timur (BKT) di Duren Sawit, Jakarta Timur, 14 Juli 2018. Potensi lahan pertanian di sekitar BKT dapat dikelola menjadi kawasan ramah pangan lestari (KRPL) agar bisa memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Probolinggo - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan bahwa polemik pangan di Indonesia, khususnya beras kerap dipengaruhi dengan banyaknya mafia yang mengambil keuntungan.

    Baca: Soal Impor Jagung, Darmin Sindir Amran: Katanya Surplus?

    "Mafianya macam-macam. Mafia impor, mafia beras oplos, mafia pupuk," kata Amran kepada pers usai melakukan panen jagung di Desa Randu Merak, Kecamatan Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, Rabu, 16 Januari 2019. "Bayangkan, pupuk yang biasa kita berikan ke petani adalah pupuk palsu."

    Amran mengungkapkan selama Pemerintahan Jokowi-JK, sudah banyak kasus mafia pangan yang diserahkan ke pihak Kepolisian. Hingga kini tercatat ada 15 perusahaan yang masuk daftar hitam.

    Lebih jauh Amran merinci setidaknya ada 782 perusahaan yang sedang diproses hukum dan 409 perusahaan sudah dijebloskan ke penjara. Tidak tertutup kemungkinan, kata dia, bahwa jumlah ini masih terus bertambah selama ada laporan dari masyarakat dan upaya penindakan dari Satgas Pangan.

    Dari total angka tersebut, Amran menyebutkan bahwa sekitar 20 perusahaan di antaranya merupakan mafia yang memalsukan pupuk bantuan kepada petani. "Pupuk palsu, itu kalau tidak salah ada 20-an perusahaan kami kirim penjara. Bayangkan, petani diberikan pupuk palsu, produksi petani hancur kemudian tidak mendapatkan apa-apa dan merugi," ucapnya.

    Terkait beras, Amran menilai seharusnya tidak perlu dipolitisasi lagi. Kalaupun ada yang mengkritik harga beras di Indonesia paling mahal, data sebenarnya malah menunjukkan kebalikannya. 

    Amran menyebutkan, harga beras eceran Indonesia saat ini menempati urutan ke-81 harga beras eceran termahal di dunia. Urutan pertama beras eceran termahal adalah Jepang sebesar Rp 57.678 per kilogram, sementara termurah yakni di Sri Lanka sebesar Rp 7.618 per kilogram.

    Baca: Mentan: Kita Balikkan Impor 3,5 Juta Ton Jagung Jadi Ekspor

    Kementerian Pertanian, kata Amran Sulaiman, pun tak hanya melulu mengurus komoditas beras. Kementerian yang dipimpinnya juga harus memperhatikan sektor pertanian lainnya yang memiliki 460 komoditas yang harus dijaga stabilisasi harga setiap harinya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?