Bos Garuda Jelaskan Persoalan di Balik Mahalnya Tiket Pesawat

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Acara Garuda Indonesia Travel Fair 2018 yang bermitra dengan Bank Mandiri ini digelar sepanjang 5-7 Oktober 2018. Ajang ini menawarkan sejumlah promo atau diskon menarik bagi para nasabah dalam penjualan tiket pesawat. (https://www.mandirikartukredit.com/gatf2018)

    Acara Garuda Indonesia Travel Fair 2018 yang bermitra dengan Bank Mandiri ini digelar sepanjang 5-7 Oktober 2018. Ajang ini menawarkan sejumlah promo atau diskon menarik bagi para nasabah dalam penjualan tiket pesawat. (https://www.mandirikartukredit.com/gatf2018)

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Indonesia National Air Carrier Association (INACA) sekaligus Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra menjelaskan persoalan di balik tingginya tarif tiket pesawat beberapa waktu ke belakang. Ia menyebut komponen biaya operasional penerbangan belakangan juga cukup tinggi.

    Baca juga: Tiket Pesawat Mahal, Faisal Basri: Karena Tarif Bawah Diatur

    "Pembayaran komponen cost dalam dolar Amerika Serikat, sementara kurs berfluktuasi, komoditas juga harganya berfluktuasi," ujar dia di Penang Bistro, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019. 

    Salah satu komponen pembentuk ongkos penerbangan, ujar Ari, adalah bahan bakar pesawat, avtur. Belakangan, harga avtur sempat melambung di pasar. Padahal, bahan bakar menyumbang 40-45 persen dalam komponen pembentuk ongkos.

    Komponen lainnya adalah leasing pesawat sebesar 20 persen. Persoalannya, saat ini maskapai tidak punya banyak pilihan terkait leasing ini. Perusahaan leasing didominasi oleh Amerika Serikat dan Eropa. "Baru-baru ini Cina dan Jepang menyuplai dengan competitiveness suku bunga lebih rendah, tapi aksesibilitas mereka tidak seperti AS dan Eropa," ujar dia. 

    Setelah itu, Ari menyebut komponen pembentuk ongkos penerbangan lainnya adalah perawatan pesawat alias maintenance sebesar 10 persen. Dalam hal maintenance, maskapai sangat bergantung kepada dua perusahaan besar Airbus dan Boeing lantaran yang memiliki lisensi. "Jadi ini pasar oligopoli, kami tergantung kepada fluktuasi airbus dan boeing."

    Sementara komponen lainnya yang membentuk harga adalah gaji pegawai sebesar 10 persen. "Pegawai ini adalah masyarakat Indonesia yang perlu makan jadi masuk dalam komponen," ujar Ari. Sisanya adalah komponen-komponen lain yang relatif lebih kecil kontribusinya.

    Dari biaya penerbangan itu, maskapai mengambil margin keuntungan di kisaran 1-3 persen. Margin 3 persen diperoleh bila penerbangan dipatok di kisaran tarif batas atas. Adapun tarif batas atas Indonesia, menurut Ari, belum naik lagi sejak 2016 lantaran memperhatikan daya beli masyarakat.

    Dampaknya, Ari menceritakan bahwa Garuda Indonesia tetap didera kerugian meski telah memasang harga sesuai dengan tarif batas atas. Untuk itu, dia mengatakan perseroan mesti memikirkan pemasukan lain di luar tiket pesawat. "Sekarang diminta turun, kalau kami menurunkan gaji pilot pasti didemo lagi," ujar dia. "Tapi sekarang kami berinisiatif menurunkan tarif penerbangan meski cost enggak turun."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.