Pebisnis Suriah Berencana Bangun Pabrik di Indonesia

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jembatan Barelang yang menghubungkan Batam, Pulau Tonton, dan Pulau Nipah, Desember 2017. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Jembatan Barelang yang menghubungkan Batam, Pulau Tonton, dan Pulau Nipah, Desember 2017. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta -Para pengusaha asal Suriah yang tergabung dalam Arrasyid for Industry and Trade Group menggandeng Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI Kairo untuk menjajaki rencana membangun pabrik dan berbisnis di Indonesia.

    BACA: Trump Minta Hentikan Perang Tanpa Akhir, Ancam Turki

    Para pebisnis Suriah itu menunjukkan ketertarikan berinvestasi di Indonesia saat bertemu dengan Duta Besar RI untuk Mesir Helmy Fauzi di Kairo, Mesir, demikian keterangan tertulis dari KBRI Kairo yang diterima di Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019.

    "Kami berencana membangun pabrik di sana (Indonesia)," ujar pebisnis Mohammed Alfarra saat berbincang dengan Dubes Helmy. Alfarra menjelaskan bahwa bisnisnya saat ini berkecimpung dalam pembuatan perlengkapan kamar mandi dengan merek "Clever", dan produk yang dibuat, antara lain keran air dan bathtub.

    BACA: Netanyahu Akui Serangan Rudal ke Suriah, Menyasar Hizbullah

    Tidak hanya di Mesir, produk yang memiliki merek dagang "Clever" itu juga merambah pasar Irak, Armenia, Nigeria dan negara-negara kawasan mediterania dan Timur Tengah. "Kami ingin melakukan ekspansi pasar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia," kata Alfarra.

    Dalam kesempatan tersebut, Alfarra mengajak serta Dubes Helmy mengunjungi salah satu showroom dan pabrik pembuatan perlengkapan kamar mandi di Kawasan 6 Oktober, Kairo. Alfarra menjelaskan pihaknya sudah mengamati pasar perlengkapan kamar mandi di Indonesia.

    Alfarra meyakini mampu berkompetisi dengan produk-produk yang selama ini sudah beredar di pasar Indonesia. "Sekalipun berorientasi ekspor ke negara tetangga di Asia Tenggara, kami juga harus memastikan ada tempat di pasar domestik Indonesia," ucapnya.

    Alfarra menyebutkan bahwa pada pertengahan Oktober 2018 dia telah menyambangi Batam dan Kepulauan Karimun untuk menjajaki kemungkinan pendirian pabrik di sana.

    Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan dengan BP Batam di Kairo pada awal Oktober 2018 lalu. "Kami sudah melihat beberapa lokasi potensial, karena itu kami butuh juga masukan dari Dubes Indonesia di Kairo," kata dia.

    Menanggapi hal tersebut, Dubes Helmy menyambut baik rencana pembuatan pabrik perlengkapan kamar mandi di Indonesia.

    Menurut Helmy, iklim investasi Indonesia di era pemerintahan Joko Widodo terus menunjukkan tren positif. "Penilaian lembaga-lembaga internasional yang kredibel menujukkan rating kemudahan berbisnis di Indonesia terus meningkat," jelasnya.

    Lebih lanjut, Dubes Helmy menyarankan agar para pebisnis untuk menjajaki juga peluang kerja sama dengan para mitra lokal di Indonesia. Dengan demikian, barang yang saat ini sudah diproduksi dapat mulai dijajakan di pasar Indonesia.

    "Sebelum membangun pabrik, ada baiknya untuk diawali hubungan dagang dengan mitra lokal. Jadi, produk-produknya sudah lebih dulu beredar di pasaran," kata Dubes Helmy.

    Baca berita tentang Suriah lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.