Luhut Ajak Apple, Huawei, dan Samsung Buka Pabrik di Indonesia

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan seusai memberikan keterangan di kantor Badan Pengawas Pemilu, Jakarta, Jumat, 2 November 2018. Luhut memberikan keterangan terkait pose satu jari dalam penutupan forum IMF di Bali beberapa waktu lalu. TEMPO/Syafiul Hadi

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan seusai memberikan keterangan di kantor Badan Pengawas Pemilu, Jakarta, Jumat, 2 November 2018. Luhut memberikan keterangan terkait pose satu jari dalam penutupan forum IMF di Bali beberapa waktu lalu. TEMPO/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan telah melakukan pendekatan kepada beberapa produsen gawai, misalnya Apple, Huawei, hingga Samsung untuk membuka pabrik di Indonesia.

    Simak: Tarif Tiket Pesawat, Luhut: Maskapai Jangan Semaunya

    Ia berharap masuknya para pemain industri gawai ke Indonesia bisa memberi nilai tambah terhadap salah satu sumber daya alam andalan Tanah Air, timah. Selama ini, menurut dia, Indonesia memang tersohor sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia.

    "Jadi semua yang menggunakan bahan itu kami ajak untuk membuat hardwarenya di sini," kata Luhut di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Senin, 14 Januari 2019.

    Untuk menarik minat para pelaku industri gadget itu agar membangun pabrik di dalam negeri, Luhut mengatakan pemerintah bakal menyiapkan insentif-insentif. Kendati dia belum menyebut secara detail insentif apa yang akan diberikan.

    "Jadi itu cara kita mengembangkan sumber daya alam yang puluhan tahun hanya diekspor mentah," ujar Luhut.

    Sebelum memacu industri nikel, pemerintah telah terlebih dahulu menyiapkan kawasan industri untuk memberi nilai tambah terhadap nikel, yakni kawasan Morowali. Kawasan tersebut ke depannya akan menjadi kawasan industri yang terintegrasi yang memproduksi berbagai macam produk, antara lain nikel, stainless steel, carbon steel, hingga baterai lithium. Adapun investasi di kawasan seluas 3.000 hektare itu berkisar mendekati US$ 7,8 miliar.

    Luhut meyakini kawasan industri Morowali nantinya akan membuat Indonesia menjadi salah satu produsen baterai lithium terbesar di dunia. Apalagi, bahan baku utama untuk baterai lithium semua ada di dalam negeri, misalnya nikel dan kobalt. 

    "Kami juga sudah minta Institut Teknologi Bandung untuk transfer teknologi terbaru bagaimana mengekstrak kobalt dari nikel, bekerja sama dengan profesor dari Tiongkok," kata Luhut. "Itu akan diimplementasikan di Morowali."

    Pabrik baterai lithium di Morowali itu direncanakan kelar terbangun dalam 16 bulan ke depan dan bisa berproduksi pada pertengahan tahun 2020. Bahan baku itu nantinya bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar sepeda motor listrik, angkutan publik, hingga industri mobil listrik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.