Luhut: Hyundai Siapkan USD 1 M untuk Industri Mobil Listrik

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kanan), didampingi Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kiri), berjalan menuju ruangan pembukaan Our Ocean Conference di Nusa Dua, Bali, Senin, 29 Oktober 2018. ANTARA/MediaOOC2018/Prasetia Fauzani

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kanan), didampingi Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kiri), berjalan menuju ruangan pembukaan Our Ocean Conference di Nusa Dua, Bali, Senin, 29 Oktober 2018. ANTARA/MediaOOC2018/Prasetia Fauzani

    TEMPO.CO, Jakarta - Produsen mobil Hyundai disebut siap berinvestasi membuat pabrik mobil listrik di Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan berujar perusahaan asal Korea Selatan itu siap menanamkan duitnya sebesar US$ 1 miliar untuk proyek tersebut.

    Simak: Tarif Tiket Pesawat, Luhut: Maskapai Jangan Semaunya

    "Angka pastinya belum kami tanya, tapi mereka menyiapkan US$ 1 miliar dolar, tergantung kapasitasnya," ujar Luhut di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Senin, 14 Januari 2019.

    Nantinya, pabrik mobil listrik itu diperkirakan dibangun di area Karawang, Bekasi, atau Purwakarta. Pertimbangannya, tiga kawasan itu akan dekat dengan fasilitas transportasi internasional, antara lain Bandara Kertajati Majalengka dan Pelabuhan Patimban di Subang. 

    Produk-produk hasil kawasan industri itu selanjutnya akan diekspor ke Australia dan Asia Tenggara. "Karena kita sudah punya free trade agreement," ujar Luhut. Selain itu, sasaran ekspor lainnya adalah negara di pantai timur Afrika, seperti Kenya dan Mozambik. "Kita akan ekspor ke sana, ini sangat strategis."

    Industri mobil listrik, kata Luhut, nantinya sejalan dengan pengembangan Kawasan Industri Morowali. Kawasan tersebut ke depannya akan menjadi kawasan industri yang terintegrasi yang memproduksi berbagai macam produk, antara lain nikel, stainless steel, carbon steel, hingga baterai lithium. Adapun investasi di kawasan seluas 3.000 hektare itu berkisar mendekati US$ 7,8 miliar.

    Luhut meyakini kawasan industri Morowali nantinya akan membuat Indonesia menjadi salah satu produsen baterai lithium terbesar di dunia. Apalagi, bahan baku utama untuk baterai lithium semua ada di dalam negeri, misalnya nikel dan kobalt. 

    "Kami juga sudah minta Institut Teknologi Bandung untuk transfer teknologi terbaru bagaimana mengekstrak kobalt dari nikel, bekerja sama dengan profesor dari Tiongkok," kata Luhut. "Itu akan diimplementasikan di Morowali."

    Pabrik baterai lithium di Morowali itu direncanakan kelar terbangun dalam 16 bulan ke depan dan bisa berproduksi pada pertengahan tahun 2020. Bahan baku itu nantinya bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar sepeda motor listrik, angkutan publik, hingga industri mobil listrik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tata Tertib Penonton Debat Capres 2019, KPU Siapkan Kipas

    Begini beberapa rincian yang perlu diperhatikan selama debat Capres berlangsung pada Kamis, 17 Januari 2019. Penonton akan disediakan kipas oleh KPU.