Luhut Sebut Buruh Asal Cina di Morowali Hanya 3.000-an Orang

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani melihat patung berjudul

    Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani melihat patung berjudul "Stand Strong for Change" saat inspeksi kesiapan pertemuan IMF - World Bank di Nusa Dua, Bali, Ahad, 7 Oktober 2018. Luhut dan Sri Mulyani mengecek segala persiapan pertemuan tahunan IMF - World Bank yang akan berlangsung mulai besok, 8 Oktober 2018. ANTARA.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan buka-bukaan soal tenaga kerja asing asal Cina di Kawasan Industri Morowali. Ia memastikan isu bahwa pekerja asal Cina mencapai lebih dari 90 persen di sana adalah berita yang tidak benar.

    BACA:Luhut: Jika Pengelolaan Utang Berbahaya, Respons Market Gak Bagus

    "Media juga sudah kami ajak melihat bahwa buruh Cina di sana tidak sebanyak itu, janganlah kampanye dengan menebar kebohongan, itu tidak elok," kata Luhut di Kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Senin, 14 Januari 2019.

    Belum lama ini, Luhut memang melakukan kunjungan ke Morowali. Salah satunya untuk menyimak groundbreaking pembangunan industri baterai lithium di sana. Menurut Luhut, saat ini tenaga kerja Cina yang bekerja di kawasan industri tersebut hanya sekitar 3.000-3.100 orang saja dari total pekerja hampir 31 ribu orang. "Buruh asing itu untuk posisi engineer," tutur dia.

    Kawasan Morowali, ujar Luhut, ke depannya akan menjadi kawasan industri yang terintegrasi yang memproduksi berbagai macam produk, antara lain nikel, stainless steel, carbon steel, hingga baterai lithium. Adapun investasi di kawasan seluas 3.000 hektare itu berkisar mendekati US$ 7,8 miliar.

    Ke depannya, ia menyebut kebutuhan akan tenaga kerja di sana juga akan sangat besar. Bahkan, dalam setahun kedepan Luhut menghitung kawasan industri itu bakal memerlukan 100 ribu tenaga kerja seiring dengan bertumbuhnya investasi. Kebutuhan itu, ujar dia, akan dipenuhi dari stok tenaga kerja lokal. 

    "Di sana juga sudah ada politeknik yang menghasilkan 200 orang tenaga kerja per tahun dan akan meningkat menjadi 600 orang per tahun," kata bekas Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan itu.

    Luhut meyakini kawasan industri Morowali nantinya akan membuat Indonesia menjadi salah satu produsen baterai lithium terbesar di dunia. Apalagi, bahan baku utama untuk baterai lithium semua ada di dalam negeri, misalnya nikel da kobalt. 

    "Kami juga sudah minta Institut Teknologi Bandung untuk transfer teknologi terbaru bagaimana mengekstrak kobalt dari nikel, bekerja sama dengan profesor dari Tiongkok," kata Luhut. "Itu akan diimplementasikan di Morowali."

    Pabrik baterai lithium di Morowali itu direncanakan kelar terbangun dalam 16 bulan ke depan dan bisa berproduksi pada pertengahan tahun 2020. Bahan baku itu nantinya bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar sepeda motor listrik, angkutan publik, hingga industri mobil listrik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H