Darmin Nasution: Neraca Perdagangan 2019 Defisit Karena Migas

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Perkonomian Darmin Nasution memberikan keterangan kepada wartawan usai melantik tiga pejabat baru BP Batam di kantornya, Jakarta Pusat, Senin 7 Januari 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Menteri Koordinator Bidang Perkonomian Darmin Nasution memberikan keterangan kepada wartawan usai melantik tiga pejabat baru BP Batam di kantornya, Jakarta Pusat, Senin 7 Januari 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan neraca perdagangan tahun ini belum bisa surplus. Penyebabnya, defisit perdagangan minyak dan gas atau migas.

    Baca juga: Solusi Atasi Defisit Neraca Perdagangan Menurut Jusuf Kalla

    "Belum. Urusan migas ini bagaimana menyelesaikannya. Setahun kah?" kata Darmin saat ditanya apakah neraca perdagangan bisa surplus tahun ini atau tidak, di kantornya, Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019.

    Menurut dia, neraca perdagangan Indonesia masih berat atau lebih dipengaruhi migas. "Sebenarnya terakhir kita surplus migas neraca perdagangannya itu pada 2001 atau 2002. Setelah itu pelan-pelan makin besar, makin besar," ujar dia.

    Saat ini, kata Darmin, neraca perdagangan jika dilihat dari nonmigas, Indonesia surplus. Namun, defisit migas terlalu besar, sehingga totalnya jadi defisit keseluruhan neraca perdagangan.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit US$ 2,05 miliar pada November 2018 seiring besarnya defisit di neraca migas. Nilai defisit ini disebabkan posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar US$ 14,83 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor sebesar sebesar US$ 16,88 miliar.

    Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan penyebabnya adalah defisit di neraca migas yang mencapai US$ 1,46 miliar pada November 2018. "Defisit di neraca migas ini disebabkan defisit yang cukup besar di hasil minyak sebesar US$ 1,58 miliar," kata Suhariyanto, Senin, 17 Desember 2018

    Sementara itu, defisit nonmigas tercatat sebesar US$ 583,2 juta. Secara kumulatif (Januari-November), BPS melaporkan neraca perdagangan masih defisit sebesar US$ 7,52 miliar. Posisi ini jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami surplus US$ 12,08 miliar.

    "Jadi bisa dilihat pergerakan defisitnya, sehingga diharapkan upaya menggenjot ekspor dan mengendalikan impor lebih baik lagi agar neraca perdagangan dapat kembali surplus ke depannya," kata Suhariyanto.

    Nilai ekspor per November turun 6,69 persen menjadi US$ 14,83 miliar disebabkan oleh penurunan ekspor migas. Ekspor hasil minyak, minyak mentah dan gas juga turun. Sementara itu, ekspor nonmigas juga turun sebesar 6,25 persen dari bulan sebelumnya.

    Baca berita lain tentang neraca perdagangan di Tempo.co

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gaji Gubernur dan Perbandingan Luas Jawa Tengah dengan Malaysia

    Dalam Debat Pilpres 2019 pertama pada 17 Januari 2019, Prabowo Subianto menyinggung besaran gaji gubernur dengan mengambil contoh Jawa Tengah.