Dampingi Jokowi di Gudang Bulog, Buwas dan Enggar Akrab

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi saat meninjau Gudang Bulog, Perum Bulog Divre DKI Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/1) pagi. Twitter/setkabgoid

    Presiden Jokowi saat meninjau Gudang Bulog, Perum Bulog Divre DKI Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/1) pagi. Twitter/setkabgoid

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo alias Jokowi meninjau stok beras di gudang Bulog, Kamis, 10 Januari 2019. Turut mendampingi Jokowi adalah Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik atau Bulog Budi Waseso dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

    BACA: Jokowi Puji Berkali-kali Perum Bulog Pimpinan Buwas

    Pengamatan Tempo, Buwas--begitu Budi Waseso akrab disapa berjalan berdampingan bersama Enggar di gudang milik Bulog di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mereka terlihat sesekali tertawa lepas. 

    Usai kunjungan Jokowi itu, Buwas ditanyai soal hubungannya dengan Enggar yang sekarang terlihat akrab. "Tidak ada masalah, lihat aja," kata dia sembari tersenyum, Kamis, 10 Januari 2019.

    Sebelumnya, kedua pejabat sempat panas gara-gara keputusan impor hingga 2 juta ton pada September 2018. Saat itu Enggar mengatakan urusan urusan penyimpanan beras impor di gudang mana bukanlah urusannya. "Enggak tahu saya, bukan urusan kami. Itu kan sudah diputuskan di rapat koordinasi Menko, urusan Bulog," kata Enggar.

    BACA: Di Acara HUT ke-9, CEO Sebut Jokowi Bapak Bukalapak

    Budi Waseso menyayangkan sikap itu karena soal penyimpanan beras di gudang bukan hanya urusan Bulog saja melainkan urusan bersama. "Mata mu!" kata Buwas saat itu mengungkapkan kekesalannya dalam konferensi persnya. Bahkan, Buwas mempersilahkan beras impor itu disimpan saja di kantor Enggar.

    Kini, keduanya bersama-sama hadir di gudang milik Bulog. Dalam kunjungan Jokowi itu, diketahui stok beras milik Bulog saat ini mencapai 2,1 juta ton. Tapi, 1,7 juta ton di antaranya adalah beras impor. Tapi Buwas memastikan tidak akan ada impor sampai Juli 2019 karena adanya panen raya di Februari dan Maret 2019.

    Bagi Buwas, permasalahannya dengan Enggar adalah hal yang biasa saja. Jika ada satu permasalahan, kata dia, yang memang harus diselesaikan bersama. "Karena ini kita bicara bangsa, bukan orang-orang."

    Buwas menyampaikan bahwa dirinya bukan berkeras tidak mau impor. Tapi sedapat mungkin, tidak ada impor beras sekali petani masih memproduksi beras yang cukup. "Selama tidak ada kekurangan, ya jangan impor, kasihan petani."

    Baca berita tentang Jokowi lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.