Bank Indonesia Yakin Nilai Tukar Rupiah 2019 Bergerak Stabil

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perempuan menunjukkan uang pecahan Rp 10 ribu dengan gambar Cut Nyak Dien untuk diturkarkan di kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin, 17 Desember 2018. Empat pecahan yang nantinya sudah tidak diberlakukan lagi, yakni pecahan Rp 10 ribu bergambar Cut Nyak Dien, pecahan Rp 20 ribu bergambar Ki Hajar Dewantara, pecahan Rp 50 ribu bergambar WR Supratman dan pecahan Rp 100 ribu bergambar Soekarno-Hatta berbahan plastik. TEMPO/Tony Hartawan

    Seorang perempuan menunjukkan uang pecahan Rp 10 ribu dengan gambar Cut Nyak Dien untuk diturkarkan di kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin, 17 Desember 2018. Empat pecahan yang nantinya sudah tidak diberlakukan lagi, yakni pecahan Rp 10 ribu bergambar Cut Nyak Dien, pecahan Rp 20 ribu bergambar Ki Hajar Dewantara, pecahan Rp 50 ribu bergambar WR Supratman dan pecahan Rp 100 ribu bergambar Soekarno-Hatta berbahan plastik. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, PALEMBANG – Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah bergerak stabil dan cenderung menguat sepanjang tahun ini.  

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar saat ini sudah berkisar Rp14.000 per dolar AS.

    BACA: JK Optimistis Rupiah Bisa Menguat Kembali

    “Kami masih melihat bahwa nilai tukar saat ini masih under value. Artinya, masih banyak potensi untuk stabil dan menguat,” katanya di sela acara serah terima jabatan (sertijab) kepala Perwakilan BI Sumsel di Palembang, Kamis 10 Januari 2019.

    Perry memaparkan terdapat empat faktor yang mendorong pergerakan nilai tukar menjadi stabil dan menguat.

    Pertama, terkait kebijakan suku bunga. Dia menjelaskan kebijakan suku bunga Tanah Air sudah membuat imbal hasil aset keuangan Indonesia termasuk obligasi menjadi menarik.

    "Sehingga memang meningkatkan arus modal asing masuk ke Indonesia dan menambah pasokan valas di dalam negeri,” katanya.

    Kedua, kecenderungan kenaikan suku bunga di dunia, khususnya di Amerika yang lebih rendah dari yang diperkirakan.

    “Dulunya kami perkirakan [naik] 3 kali ternyata paling banter hanya 2 kali sehingga timbul kondisi investor global mulai beralih ke negara yang menarik, termasuk Indonesia,” katanya.

    Ketiga, defisit neraca perdagangan atau transaksi berjalan Indonesia yang diupayakan lebih rendah dari tahun lalu.

    Perry menjelaskan tahun lalu angka defisit tersebut sebesar 3% dari PDB dan diupayakan tahun ini sekitar 2,5%. “Sehingga dari sisi fundamentalnya cenderung menguat.”

    Keempat, pasar semakin berkembang di mana saat ini sudah sudah pasar SWAP dan pasar transaksi forward atau yang disebut domestic non delivery forward (DNDF). Sementara sebelumnya, kata Perry, transaksi valas hanya di pasar tunai atau spot.

    Simak berita tentang Rupiah hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gaji Gubernur dan Perbandingan Luas Jawa Tengah dengan Malaysia

    Dalam Debat Pilpres 2019 pertama pada 17 Januari 2019, Prabowo Subianto menyinggung besaran gaji gubernur dengan mengambil contoh Jawa Tengah.