4 Saran PHRI Agar Target Devisa Pariwisata USD 20 Miliar Tercapai

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah turis mancanegara menikmati pemandangan matahari terbit saat berkunjung ke Taman Nasional Bromo Tengger, Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Jawa Timur, Kamis 8 November 2018. Kementerian Pariwisata menargetkan pada 2019 kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia akan menghasilkan devisa Rp.87 miliar. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

    Sejumlah turis mancanegara menikmati pemandangan matahari terbit saat berkunjung ke Taman Nasional Bromo Tengger, Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Jawa Timur, Kamis 8 November 2018. Kementerian Pariwisata menargetkan pada 2019 kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia akan menghasilkan devisa Rp.87 miliar. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Hariyadi Sukamdani menyampaikan, target devisa US$ 20 miliar pada 2019 masih agak berat untuk diraih.

    Baca juga: Kunjungan Wisman Meleset, Pencapaian Devisa di Atas Target

    Pasalnya, berkaca pada 2018 target devisa US$ 17 miliar juga kemungkinan tidak tercapai. “Namun, target itu tentunya bisa diraih dengan kerja keras. Harus ada usaha yang luar biasa dari para stakeholder,” ujarnya, Minggu, 6 Januari 2019.

    Sebelumnya, Kementerian Pariwisata menargetkan devisa dari sektor pariwisata mencapai US$20 miliar pada 2019, atau tertinggi dibandingkan dengan target sektor lainnya.

    Karena itu, PHRI memberikan 4 poin saran yang dapat dilakukan untuk memacu devisa dari sektor pariwisata. Pertama, mengonversi program branding menjadi selling.

    Menurut Hariyadi, pemerintah dan pelaku usaha cukup berhasil melakukan branding. Namun, penjualan produk pariwisata terbilang cukup sulit karena biaya iklan dan promosi cenderung terbatas.

    "Tanpa pendanaan yang efektif akan susah untuk mendapatkan target itu (devisa US$20 miliar). Perlu adanya anggaran untuk iklan dan sosialisasi dalam menjual produk-produk wisata," katanya.

    Kedua, membuat program kerja sama dengan maskapai penerbangan. Adanya tambahan devisa tentunya berasal dari tambahan jumlah wisatawan mancanegara, yang mayoritas datang menggunakan pesawat.

    Kerja sama dengan maskapai dapat dilakukan dengan melakukan promosi pariwisata di pesawat dan bandara, serta memberikan fasilitas terminal low-cost carrier (LCC).

    Ketiga, mengoptimalkan jaringan promosi melalui diaspora dan generasi muda. Kemenpar sudah membentuk Generasi Pesona Indonesia (GenPI) untuk menyemarakkan pariwisata di kalangan muda dan juga media sosial.

    Namun, ada segmen yang belum tergarap yakni diaspora, yang memiliki jaringan kuat di suatu negara. Keberadaan diaspora menjadi salah satu peluang promosi pariwisata Indonesia.

    Keempat, pembenahan destinasi wisata dalam hal kebersihan dan keamanan. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama dengan pemerintah daerah.

    Hariyadi menambahkan, salah satu tantangan dalam mendatangkan wisman ialah persoalan bencana. Hal ini dapat ditanggulangi dengan menonjolkan wisata-wisata alternatif di tempat lain.

    “Misalnya di Bali jumlah wisman sampai 5 juta orang. Kalau Bali ada apa-apa, ini sangat mempengaruhi jumlah kunjungan. Jadi pariwisata daerah lain juga dapat ditonjolkan,” katanya.

    Baca juga berita devisa lainnya di Tempo.co

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.