Perbankan Nasional Kini Dinilai Lebih Kuat Hadapi Tekanan Global

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perempuan menunjuukan uang pecahan lama yang akan ditukarkan nasabah di kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin, 17 Desember 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Seorang perempuan menunjuukan uang pecahan lama yang akan ditukarkan nasabah di kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Senin, 17 Desember 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai bahwa perbankan Indonesia pada saat ini sudah lebih kuat dalam menghadapi tekanan global dibandingkan dengan kondisi krisis pada 1998.

    Baca: Rupiah Anjlok, Ketua OJK Pastikan Kondisi Perbankan Aman

    Executive Director CIPS Rainer Heufers, Kamis, menyatakan saat ini memang ada kekhawatiran muncul karena adanya ketakutan berulangnya krisis ekonomi 1998. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin memperkuat kekhawatiran tersebut.

    Padahal, menurut Rainer, kondisi krisis ekonomi 1998 sangat berbeda dengan yang telah terjadi pada 2018. Selain itu tingkat depresiasi mata uang rupiah jauh lebih rendah daripada yang terjadi pada 1998. "Bank-bank Indonesia sudah lebih kuat dan sektor keuangan Indonesia jauh lebih kuat dalam menghadapi tekanan global," ucapnya.

    Selain itu, Rainer menjelaskan, cadangan devisa negara jauh melebihi yang dimiliki pada 1998 dan rasio utang terhadap PDB kurang dari setengah dari 74 persen yang dialami Indonesia pada 1998. Ia juga mengemukakan bahwa defisit anggaran dan tingkat utang secara umum tetap terkendali dan berada dalam batas aman yang diatur Undang-undang.

    Hal ini bahkan tetap terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengikuti kebijakan normalisasi The Fed dengan menaikkan suku bunga tujuh kali dengan total 1,75 persen pada 2018. Sebelumnya, BI optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus bergerak stabil dan menguat pada 2019.

    Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya mengatakan suku bunga acuan bank sentral AS The Fed atau Fed Fund Rate (FFR) yang tahun ini naik empat kali, pada 2019 hanya akan naik dua kali. Selain itu, ketegangan terkait perdagangan global dinilainya sudah mengarah ke arah yang lebih positif.

    Baca: OJK Putus Akses 404 Pinjaman Online Ilegal ke Perbankan

    Sementara itu, dari sisi dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dipastikan akan lebih baik di mana pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yaitu di kisaran 5-5,4 persen. Inflasi juga diperkirakan akan tetap rendah dan terkendali di 3,5 persen dan defisit neraca transaksi berjalan akan turun menjadi 2,5 persen dibandingkan tahun lalu yang diprediksi mencapai 3 persen.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.