Minta Bank Tak Kerek Suku Bunga, OJK: Membingungkan Masyarakat

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso meninggalkan gedung KPK setelah pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 13 November 2018. Wimboh Santoso diperiksa sebagai saksi untuk pengembangan penyelidikan kasus tindak pidana korupsi aliran dana bailout Bank Century yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 6,7 triliun. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Wimboh Santoso meminta perbankan tidak terlalu responsif terhadap kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia beberapa waktu ke belakang. Ia mengatakan kondisi suku bunga tinggi hanya bersifat sementara.

Baca: 2019, BI Prediksi The Fed Hanya Akan Naikkan Suku Bunga Dua Kali

"Jangan sampai volatilitas, jangan terlalu merespons, daripada merespon nanti balik lagi. Kan jadi membingungkan sinyalnya kepada masyarakat," ujar Wimboh di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu, 2 Januari 2018.

Wimboh mengatakan masih ada peluang bagi suku bunga acuan Bank Indonesia untuk turun lagi ke kondisi normal. "BI rate akan normal bila situasi sudah normal, karena The Fed ada kenaikan dua kali lagi, kita tunggu dulu," kata dia. Ia melihat situasi bakal kembali normal setelah dua kali kenaikan suku bunga bank sentral negeri Abang Sam itu rampung.

Menurut Wimboh, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dalam beberapa waktu ke belakang dilakukan hanya untuk merespons keyakinan investor do portofolio investasi saja. Pasalnya tekanan pada tahun lalu sangat berat, salah satunya lantaran volatilitas rupiah. Gejolak pada nilai tukar itu, lantas membuat Bank Indonesia mesti merespon dengan kenaikan suku bunga acuannya.

Saat ini suku bunga acuan Bank Indonesia, BI 7-Day Repo Rate, berada pada level 6 persen. "(Tahun ini), kenaikan suku bunga di Amerika Serikat juga sudah lebih mild lagi ya, meskipun rencananya dua kali," kata Wimboh.

Pada tahun ini, Wimboh melihat arus modal asing juga mulai kembali ke dalam negeri. Modal asing, menurut dia, kecenderungannya akan mencari pasar dengan yield tinggi dan kondisi yang stabil. Dengan mulai kembalinya modal asing ke pasar dalam negeri, kata Wimboh, membuktikan fundamental perekonomian Indonesia bagus.

"Kemarin sentimen negatif karena berbagai gejolak di global, ini akan terus berangsur-angsur (kembali)," tutur Wimboh. "Pada 2019, investor portofolio akan lebih confidence saja untuk masuk ke Indonesia."

Baca: Ekonom: Suku Bunga KPR Diperkirakan Naik pada 2019

Masuknya kembali investor global ke pasar modal Indonesia diperkirakan bakal membuat nilai tukar rupiah lebih stabil tahun ini. Di samping tekanan suku bunga yang tidak terlalu berat ketimbang sebelumnya. Sehingga, Wimboh berharap tahun ini situasi perekonomian Indonesia bisa kembali ke kondisi normal. "Normal sekali enggak, meskipun ada kenaikan suku bunga (The Fed) dua kali lagi."






Prediksi The Fed Rate Kuartal I 2023 5 Persen, Bank Indonesia Ungkap Strategi Penguatan Rupiah

20 jam lalu

Prediksi The Fed Rate Kuartal I 2023 5 Persen, Bank Indonesia Ungkap Strategi Penguatan Rupiah

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve akan mencapai puncak.


Berikut Daftar Lima Sentimen Warnai Industri Properti Tahun Depan

1 hari lalu

Berikut Daftar Lima Sentimen Warnai Industri Properti Tahun Depan

Pengembang di Indonesia diimbau untuk mewaspadai sejumlah sentimen negatif yang membayangi kinerja sektor properti pada 2023.


Rupiah Pagi Ini Menguat Tinggalkan Posisi Rp 15.500

4 hari lalu

Rupiah Pagi Ini Menguat Tinggalkan Posisi Rp 15.500

Rupiah menguat 0,85 persen dari posisi kemarin yang ditutup di level Rp 15.563.


Sri Mulyani: APBN 2023 Dirancang Defisit 2,84 Persen dari PDB, Demi Kesehatan Keuangan RI

4 hari lalu

Sri Mulyani: APBN 2023 Dirancang Defisit 2,84 Persen dari PDB, Demi Kesehatan Keuangan RI

Sri Mulyani mengatakan pada tahun 2022, belanja APBN sebesar Rp 3.106,4 triliun dan defisit diperkirakan turun lagi menjadi Rp 598 triliun.


Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

4 hari lalu

Rupiah Kembali Menguat di Level Rp 15.563 per Dolar AS Sore Ini

Rupiah menutup perdagangan Kamis, 1 Desember 2022 dengan penguatan 169 poin di level Rp 15.563 per dolar AS.


Utang RI Mendekati Rp 7.500 Triliun, Sri Mulyani: Masih Aman, Asalkan...

4 hari lalu

Utang RI Mendekati Rp 7.500 Triliun, Sri Mulyani: Masih Aman, Asalkan...

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai utang Indonesia masih tergolong aman.


Gubernur BI: Koordinasi Erat Jadi Kekuatan RI Hadapi Ekonomi Dunia yang Bergejolak

5 hari lalu

Gubernur BI: Koordinasi Erat Jadi Kekuatan RI Hadapi Ekonomi Dunia yang Bergejolak

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan Indonesia memiliki kekuatan tersendiri untuk menghadapi perekonomian global yang bergejolak.


Venezuela dan Kubu Oposisi Kompak Minta Pencairan Dana Publik

8 hari lalu

Venezuela dan Kubu Oposisi Kompak Minta Pencairan Dana Publik

Uang milik Venezuela itu, diharapkan secara bertahap dicairkan demi mengatasi krisis kemanusiaan. Oposisi ikut mendukung hal ini


Marak Pembobolan Rekening Bermodus Link Aplikasi Pengiriman Barang, Ini Penjelasan Asosiasi Logistik

9 hari lalu

Marak Pembobolan Rekening Bermodus Link Aplikasi Pengiriman Barang, Ini Penjelasan Asosiasi Logistik

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menanggapi soal maraknya modus pembobolan rekening bank melalui tautan atau link yang mengatasnamakan aplikasi pengiriman barang dan jasa.


Saldo di Rekening Brigadir J Disebut-sebut Mencapai Rp 100 Triliun, PPATK: Itu Hoaks

9 hari lalu

Saldo di Rekening Brigadir J Disebut-sebut Mencapai Rp 100 Triliun, PPATK: Itu Hoaks

PPATK mengkonfirmasi bahwa kabar soal rekening Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J mencapai Rp 100 triliun tidak benar.