Rhenald Kasali Sebut Amerika Marah Saat RI Beli Saham Freeport

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Renegosiasi Kontrak Freeport

    Renegosiasi Kontrak Freeport

    TEMPO.CO, Jakarta - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali angkat bicara soal pembelian saham PT Freeport Indonesia. Dia mengatakan saat Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan mengeksekusi pembelian perusahaan di Papua itu, Amerika Serikat marah dan mengirim pasukan ke Australia.

    Baca: Mahfud MD Bicara Panjang soal Perpanjangan Kontrak Freeport

    "Saat Jokowi eksekusi, Jakarta selalu digoyang. Amerika marah besar, bahkan sempat kirim pasukan yang merapat di Australia. Namanya juga negara adikuasa," kata Rhenald melalui Whatsapp, Rabu, 26 Desember 2018.

    Menurut Rhenald, AS juga memakai psy war, yang merupakan hal biasa dalam mengawal kepentingan mereka. "Belum lagi penembakan-penembakan di Papua, begitu negosiasi mencapai kesepakatan," ujar dia.

    Rhenald melihat Jokowi membereskan divestasi Freeport agar Indonesia mendapat bagian yang lebih besar. Dia juga menyinggung ihwal orang-orang di media sosial yang mengatakan Freeport memang sudah saatnya beralih. "Ya begini, sekarang semua orang bisa bilang sudah saatnya. Tetapi menentukan saatnya sebelum waktunya tiba itulah leadership. Dan jangan lupa ide itu murah karena tak beresiko apa-apa, tetapi implementasi itu mahal karena yang menjalankan akan babak belur," ujar dia.

    Pada 21 Desember 2018 Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan mengumumkan kepemilikan mayoritas saham Freeport. "Nantinya income, pendapatan baik dari pajak maupun non pajak, royalti semuanya akan tentu saja lebih besar dan lebih baik. Saya kira ini lah yang memang kita tunggu," kata Jokowi dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta.

    Proses divestasi saham PT Freeport Indonesia kepada PT Indonesia Asahan Alumunium (Persero) rampung setelah sekitar dua tahun proses negosiasi intensif antara Inalum, Freeport McMoran Inc dan Rio Tinto berlangsung. Resminya pengalihan saham tersebut ditandai dengan proses pembayaran dan terbitnya Izin Usaha Pertambangan Khusus Operasi Produksi sebagai pengganti Kontrak Karya PTFI yang telah berjalan sejak tahun 1967 dan diperbaharui di tahun 1991 dengan masa berlaku hingga 2021.

    Dengan terbitnya IUPK ini, Freeport Indonesia bakal mengantongi perpanjangan masa operasi 2 x 10 tahun hingga 2041, serta mendapatkan jaminan fiskal dan regulasi. PTFI juga akan membangun pabrik peleburan (smelter) dalam jangka waktu lima tahun.

    Terkait dengan pengalihan saham, INALUM telah membayar US$ 3.85 miliar kepada Freeport McMoRan Inc dan Rio Tinto, untuk membeli sebagian saham perusahaan asal Amerika Serikat dan hak partisipasi Rio Tinto di Freeport  Indonesia. Dengan demikian kepemilikan Inalum meningkat dari 9,36 persen menjadi 51,23 persen.

    HENDARTYO HANGGI | FRISKI RIANA | CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.