Inalum: Tak Ada yang Digadaikan dalam Pembelian Saham Freeport

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri BUMN Rini Soemarno menyalami CEO Freeport McMoRan Richard Adkerson (kanan) seusai memberikan keterangan terkait pelunasan divestasi PT Freeport Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 21 Desember 2018. Pemerintah Daerah Papua akan memperoleh 10 persen dari 100 persen saham PT Freeport Indonesia.  ANTARA/Wahyu Putro A

    Menteri BUMN Rini Soemarno menyalami CEO Freeport McMoRan Richard Adkerson (kanan) seusai memberikan keterangan terkait pelunasan divestasi PT Freeport Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 21 Desember 2018. Pemerintah Daerah Papua akan memperoleh 10 persen dari 100 persen saham PT Freeport Indonesia. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Inalum (Persero) mengatakan tidak ada aset atau saham perusahaan dan anak usaha yang digadaikan ketika perusahaan menerbitkan obligasi global dalam peningkatan kepemilikan saham di PT Freeport Indonesia (PTFI).

    Baca: Divestasi Saham, Freeport McMoran: Menguntungkan Kedua Pihak

    "Jangan termakan hoax. Tidak ada aset atau saham yang kita gadaikan dalam penerbitan tersebut. Mengapa bisa tanpa jaminan? Karena investor global percaya akan kinerja Inalum dan prospek bisnis PTFI," kata Kepala Komunikasi Korporat dan Hubungan Antar Lembaga Inalum Rendi Witular dalam keterangan tertulis, Minggu, 23 Desember 2018.

    Obligasi global tersebut senilai US$ 4 miliar. Dari jumlah tersebut, sebanyak US$ 3,85 miliar atau Rp 55 triliun digunakan untuk pembayaran saham Freeport Indonesia dan sisanya US$ 150 juta untuk "refinancing."

    Holding Industri Pertambangan PT Inalum (Persero) meluruskan asumsi-asumsi yang tidak berdasar terkait pembiayaan untuk meningkatkan kepemilikan perusahaan di PT Freeport Indonesia (PTFI) dari 9,36 persen menjadi 51,2 persen. Obligasi global Inalum terdiri dari dari empat seri dengan dengan masa tersingkat 3 tahun dan paling lama 30 tahun denggan tingkat kupon rata-rata sebesar 5,991 persen.

    BNP Paribas dari Prancis, Citigroup dari Amerika Serikat dan MUFG dari Jepang menjadi koordinator underwriter dalam penerbitan obligasi ini serta CIMB dan Maybank dari Malaysia, SMBC Nikko dari Jepang dan Standard Chartered Bank dari Inggris sebagai mitra underwriter. Untuk penerbitan Global Bond ini, Inalum mendapatkan "rating" Baa2 dari Moody's dan BBB- dari Fitch. Bond ini telah terdaftar di Singapore Exchange Securities.

    Penerbitan obligasi ini lebih kompetitif dan stabil dibanding dengan pinjaman dari sindikasi perbankan asing. Jika lewat perbankan akan ada resiko suku bunga yang dapat melonjak di saat ketidakpastian ekonomi global, dan juga untuk jangka panjang biasanya bank meminta jaminan. "Mengapa tidak mengambil pembiayaan dari dalam negeri? Karena kita tidak ingin ada uang yang keluar dari Indonesia dan mengakibatkan terjadinya fluktuasi nilai tukar rupiah. Ini kan uangnya dari Jepang, Singapura, Amerika dan Eropa yang ditransfer ke negara lain," kata Rendi.

    Rendi juga menjelaskan jika Inalum mempunyai kemampuan yang kuat untuk membayar. "Kita keluar Rp 55 triliun untuk membeli tambang Freeport Indonesia dengan kekayaan senilai Rp 2,400 triliun hingga 2041. Setelah 2022, laba bersih Freeport Indonesia diproyeksikan sebesar Rp29 triliun per tahun berdasarkan asumsi yang sangat konservatif," kata Rendi.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.