2019, BI Prediksi The Fed Hanya Akan Naikkan Suku Bunga Dua Kali

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan pidato pembuka saat Indonesia Investment Forum 2018 di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan pidato pembuka saat Indonesia Investment Forum 2018 di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Selasa 9 Oktober 2018. ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia atau BI mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed). The Fed pada tahun 2019 disebut tidak akan menaikkan suku bunga setinggi yang diprediksi sebelumnya.

    Baca: BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 6 Persen

    "Sebelumnya kami perkirakan tiga kali pada tahun depan, dengan keputusan tadi malam, probabilitasnya mengarah kepada dua kali saja," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 20 Desember 2018.

    Hal tersebut disebabkan pertumbuhan ekonomi negeri Abang Sam yang sebelumnya sangat perkasa pada 2018 akan mengalami konsolidasi pada 2019. Prospek konsolidasi pertumbuhan ekonomi AS ditambah dengan masih adanya ketidakpastian di pasar keuangan diperkirakan menurunkan kecepatan kenaikan suku bunga kebijakan The Fed (Fed Fund Rate) pada 2019.

    Selain perkembangan di AS, Perry melihat pertumbuhan ekonomi dunia memang cenderung melandai pada 2019. Misalnya saja di Eropa, pertumbuhan ekonomi akan cenderung melambat, meskipun arah normalisasi kebijakan moneter bank sentral Eropa (ECB) pada 2019 tetap menjadi perhatian.

    Di negara berkembang, pertumbuhan ekonomi Cina juga terus melambat dipengaruhi melemahnya konsumsi dan ekspor neto antara lain akibat pengaruh ketegangan hubungan dagang dengan AS, serta berlanjutnya proses deleveraging di sistem keuangan. "Pertumbuhan ekonomi dunia yang melandai serta risiko hubungan dagang antar negara dan geopolitik yang masih tinggi berdampak pada tetap rendahnya volume perdagangan dunia," ujar Perry. Sejalan dengan itu, harga komoditas global menurun, termasuk harga minyak dunia akibat peningkatan pasokan dari AS, OPEC dan Rusia.

    Atas pertimbangan itu, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Days Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6 persen. Keputusan itu dikeluarkan melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang diselenggarakan di Kantor Bank Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat pada Rabu-Kamis, 19-20 Desember 2018.

    Baca: The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin

    "BI meyakini tingkat suku bunga tersebut konsisten menurunkan CAD (defisit transaksi berjalan) ke batas aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik, serta mempertimbangkan tren suku bunga global beberapa waktu ke depan," kata Perry saat mengumumkan keputusan hasil RDG. Keputusan mempertahankan BI 7 DRR tersebut juga diikuti dengan kebijakan mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen. Sedangkan suku bunga Lending Facility dipertahankan 6,75 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?