Natal dan Tahun Baru, Konsumsi BBM Bisa Naik Lebih dari 8 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis Premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018. Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menunda kenaikan harga Premium menjadi Rp 7.000 per liter karena ketidaksiapan PT Pertamina. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis Premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018. Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menunda kenaikan harga Premium menjadi Rp 7.000 per liter karena ketidaksiapan PT Pertamina. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan memastikan pasokan bahan bakar minyak atau BBM dan elpiji selama periode Natal dan Tahun Baru terpenuhi. Jonan menyebut Pemerintah akan menambah pasokan BBM agar masyarakat dapat berlibur dengan nyaman.

    Baca: Dirjen Migas: Harga BBM Non Subsidi Turun Paling Lambat Januari

    "Berdasarkan realisasi tahun lalu kenaikan konsumsi BBM sekitar 8 persen. Tahun ini bisa lebih tinggi. Jadi pasokan akan ditambah, disesuaikan," kata Jonan dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Kamis, 20 Desember 2018. Kendati, data-data sebelumnya menunjukkan konsumsi solar pada periode tersebut trennya turun karena kegiatan industri pada periode itu juga turun.

    Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Jonan berujar penambahan volume BBM tersebut akan difokuskan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada jalur yang biasa dilalui masyarakat untuk berlibur, pintu masuk dan keluar jalan tol serta daerah tujuan wisata.

    "Wilayah yang volumenya naik biasanya fokusnya pintu masuk dan keluar jalan tol, sekarang tol Trans Jawa sudah selesai, volume BBM di pintu masuk dan keluarnya ditambah, kami yakin selama Natal dan Tahun Baru banyak orang bepergian melalui jalan Tol Trans Jawa," tutur Jonan.

    Selanjutnya, Jonan juga telah menugaskan Pertamina untuk mengamankan supply BBM dan elpiji di Terminal BBM dan Depot elpiji Pertamina. Selain itu, perusahaan pelat merah itu juga diminta memperkuat layanan BBM dan elpiji di lembaga penyalur serta memberikan layanan BBM dan elpiji di tempat yang rawan dengan kepadatan. Harapannya, langkah tersebut dapat memperkuat ketahanan distribusi BBM dan elpiji.

    “Untuk BBM jenis Gasoline (Premium, Pertalite dan Pertamax Series) di Jawa Tengah kami siagakan tambahan stock 11 persen dari rata-rata normal per hari 10.561 KL yang naik menjadi 11.754 kiloliter," kata Direktur Pemasaran Retail PT Pertamina (Persero) Mas’ud Khamid. "Dan untuk konsumsi LPG di wilayah Jateng kami menyiagakan tambahan stock 10 persen menjadi 3,511 metriks ton di banding rata-rata normal per hari yaitu 3,206 metriks ton."

    Mas'ud mengatakan perseroan juga menyiagakan stok tambahan BBM jenis Avtur sebesar 7 persen dari rata-rata konsumsi normal yaitu dari 480 KL menjadi 514 KL, untuk mengantisipasi padatnya penerbangan di bandara Jawa Tengah dan DIY selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2019.

    Namun, ia memprediksi adanya penurunan konsumsi produk jenis Gasoil di wilayah Jawa Tengah, yaitu dari rata-rata harian sebesar 6.059 KL menjadi 5.778 KL lantaran adanya pembatasan operasional angkutan barang dan penurunan kegiatan angkutan industri.

    Baca: BPH Migas Antisipasi Puncak Konsumsi BBM Natal dan Tahun Baru

    Pertamina juga menyiapkan beberapa fasilitas alternatif tempat pengisian BBM agar masyarakat dapat dengan mudah memperoleh akses pengisian BBM untuk kendaraannya selama mudik dan berwisata. Perseroan menempatkan 12 titik kiosk pertamax di ruas tol yang dilengkapi dengan mobile dispenser dan BBM Kemasan. Fasilitas ini akan disebar di beberapa jalur mudik regular, ruas tol serta di jalur wisata yang rawan dengan kepadatan.

    Simak berita menarik lainnya terkait BBM hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.