Impor Migas Ditekan, Luhut: Dampak Positif Terasa di Tahun 2020

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal kargo melakukan bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 27 Agustus 2015. Tujuh langkah untuk mengurangi waktu bongkar muat, di antaranya dengan mempercepat proses pengeluaran barang impor di pelabuhan, perbaikan TIK, dan penyederhanaan perizinan dari 124 izin di 20 kementerian dan lembaga menjadi 20 izin. TEMPO/Tony Hartawan

    Kapal kargo melakukan bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 27 Agustus 2015. Tujuh langkah untuk mengurangi waktu bongkar muat, di antaranya dengan mempercepat proses pengeluaran barang impor di pelabuhan, perbaikan TIK, dan penyederhanaan perizinan dari 124 izin di 20 kementerian dan lembaga menjadi 20 izin. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyiapkan langkah-langkah untuk mengurangi impor minyak dan gas Indonesia sehingga neraca perdagangan tak lagi defisit. Meski rencana itu diperkirakan tidak akan berdampak pada jangka pendek melainkan untuk jangka panjang.

    Baca: Bea Cukai 'Online'-kan Administrasi Ekspor-Impor

    "Tentu tidak segera di 2019, karena itu menyangkut industri. Jadi saya pikir itu 2020-2021 pasti akan berdampak bagus," ujar Luhut di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta, Selasa, 18 Desember 2018.

    Salah satu caranya, kata Luhut, adalah dengan memacu produksi mobil listrik di dalam negeri. Saat ini, menurut dia, perusahaan asal Korea Selatan Hyundai menjadi salah satu perusahaan yang tertarik membangun industri mobil listrik di Tanah Air. Termasuk untuk menjadikan Indonesia menjadi salah satu hub industri mobil listrik.

    Apalagi, Luhut menyebut perkembangan mobil listrik itu nantinya akan didukung dengan pembangunan pabrik baterai lithium di Kawasan Industri Morowali. Rencananya, pembangunan pabrik baterai itu akan dimulai awal tahun depan.

    Sejumlah pemain baterai Lithium seperti LG dan Panasonic juga mengatakan ketertarikannya untuk masuk. "Kalau kita pakai mobil listrik, misalnya, kita akan bisa mengurangi impor crude oil kita," ujar Luhut.

    Selain menggarap industri mobil listrik. Pemerintah juga tengah mengkaji untuk memproduksi green diesel alias bahan bakar berbahan baku minyak sawit. Saat ini penelitian soal green diesel tengah dikerjakan oleh Institut Teknologi Bandung bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

    "Tadi malam kami laporkan kepada Presiden bahwa langkah ini bisa kita lakukan dan kalau itu jalan maka akan sangat signifikan mengurangi impor kita dan lebih dr itu kita bisa mengekspor, nanti green diesel ini," ujar Luhut.

    Baca: Dua Produk dari Palestina Ini Bebas Bea Masuk ke Indonesia

    Senin lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit US$ 2,05 miliar pada November 2018 seiring besarnya defisit di neraca migas. Nilai defisit ini disebabkan posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar US$ 14,83 miliar lebih rendah dibandingkan dengan nilai neraca impor sebesar sebesar US$ 16,88 miliar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.