Solusi Atasi Defisit Neraca Perdagangan Menurut Jusuf Kalla

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka pameran Indo Defence 2018 Expo & Forum di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu, 7 November 2018. TEMPO/Subekti

    Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka pameran Indo Defence 2018 Expo & Forum di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu, 7 November 2018. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla membeberkan solusi untuk mengatasi defisit neraca perdagangan. Solusi tersebut bersifat jangka panjang di antaranya bagaimana Indonesia masuk dalam pola perdagangan yang lebih baik dengan negara-negara lainnya.

    Baca juga: Jusuf Kalla Ungkap Penyebab Bengkaknya Defisit Neraca Perdagangan

    “Dengan empat negara Eropa sudah selesai. Ini kita lagi berunding menyelesaikan Australia dengan AS. Dan juga nanti dengan Uni Eropa. Itu antara lain cara agar posisi ekspor kita lebih baik, karena Thailand, Vietnam, juga memiliki perjanjian seperti itu. Kita mengejar sistem itu, agar ekspor kita bisa lebih baik,” ujar Kalla di Kantor Wakil Presiden RI, Selasa, 18 Desember 2018.

    Senin, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit US$ 2,05 miliar pada November 2018 seiring besarnya defisit di neraca migas. Nilai defisit ini disebabkan posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar US$ 14,83 miliar lebih rendah dibandingkan dengan nilai neraca impor sebesar sebesar US$ 16,88 miliar.

    Menurut Kalla, proses perundingan dengan Australia yaitu Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) sudah hampir selesai. Pemerintah kedua negara tinggal meneken kesepakatannya.

    Adapun kesepakatan serupa dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat, Kalla berharap selesai awal tahun depan. 

    Wapres Kalla pun menegaskan penyelesaian sejumlah kesepakatan dengan beberapa negara tersebut untuk meredam dampak buruk perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina.

    “Karena kalau terjadi perang dagang, kesempatan kita masuk lebih tinggi. Pasti barang-barang Cina ini naik harganya di Amerika. Ini kesepatan kita masuk. Tapi kalau kita tidak ada perjanjian khusus tentang perdagangan secara keseluruhan, itu nanti kita akan terhalang,” kata Jusuf Kalla.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.