Revolusi Industri, Jonan Ingin Batu Bara Memiliki Nilai Tambah

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mencoba pengisian Listrik saat peluncuran Green Energy Station (GES) oleh PT Pertamina di Jakarta, 10 Desember 2018. Saat ini di SPBU ini telah terpasang 4 (empat) unit charging station dimana 2 (dua) unit merupakan tipe fast charging yang mampu mengisi penuh baterai kendaraan listrik dalam waktu kurang dari 15 menit dan 2 (dua) unit merupakan tipe normal charging. Tempo/Amston Probel

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mencoba pengisian Listrik saat peluncuran Green Energy Station (GES) oleh PT Pertamina di Jakarta, 10 Desember 2018. Saat ini di SPBU ini telah terpasang 4 (empat) unit charging station dimana 2 (dua) unit merupakan tipe fast charging yang mampu mengisi penuh baterai kendaraan listrik dalam waktu kurang dari 15 menit dan 2 (dua) unit merupakan tipe normal charging. Tempo/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan ingin batu bara memiliki nilai tambah. Karena, kata dia, saat ini sedang terjadi revolusi industri di dunia.

    BACA: Jonan: Pasokan Listrik untuk Libur Natal dan Tahun Baru Aman

    "Untuk perusahaan batu bara, pemerintah selalu menganjurkan ini harus ada nilai tambah. Sampai sekarang kebanyakan hampir semua perusahaan batu bara diam saja," kata Jonan di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa, 18 Desember 2018.

    Menurut Jonan, hampir semua perusahaan batu bara sejak memulai usaha itu hanya berfokus pada gali dan jual. "Ini yang menurut saya penting sekali. Perusahaan batu bara harus ada konversi harus ada nilai tambahnya," kata dia. "Apakah coal power plant atau lainnya".

    Jonan mencontohkan di Cina saat ini sudah bisa mengkonversi batu bara menjadi bahan bakar pesawat. "Di Cina, tidak hanya untuk energi biasa. Dia bisa mengubah jadi avtur buat bahan bakar pesawat terbang sehingga kompetisinya makin kuat," kata Jonan.

    Menurut Jonan, hal itu terjadi karena Cina memperkirakan frekuensi penerbangan domestik Cina dalam 10 tahun mendatang akan lebih besar dari Amerika Serikat.

    Oleh karena itu, Jonan yakin Indonesia juga bisa melakukan konversi batu bara agar memiliki nilai tambah. "Teknologinya ada atau tidak? Pasti ada. Tinggal kita mau atau tidak. Sederhana. Jadi, bisa buat dulu untuk ganti LPG atau jadi coal power plant," ujar Jonan.

    Hal itu Jonan sampaikan dalam International Energy Agency Coal Forecast to 2023 yang membahas mengenai proyeksi produktivitas dan pasar global batu bara.

    BACA: Jonan Janjikan Divestasi Freeport Diselesaikan dengan Cepat

    Jonan melihat saat ini sedang  terjadi revolusi industri di dunia. Dia mencontohkan pada 2008 perusahaan terbesar dunia adalah PetroCina, Exxon, General Electric, Cina Mobile, ICBC, Gazproom, Microsoft, Royal Dutch Shell, Sinopec, dan At&T.

    Sedangkan pada 2018, sepuluh perusahaan terbesar adalah Apple, Google, Microsoft, Amazon, Facebook, Tencent, Berkshire, Alibaba, J&J, dan JP Morgan.

    "Jika perubahan dunia ini yang terus berlanjut coal mining company harus adjust atau dengan value added atau fokus pengembangan bisnis ketimbang hanya di tambang," ujar Jonan.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?