Sandiaga Bayangkan Jika Prabowo Jadi Bosnya Sri Mulyani

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon wakil presiden Sandiaga Uno melihat poster bernada penolakan terhadap dirinya saat berkampanye di Labuhanbatu, Sumatera Utara, Selasa, 11 Desember 2018. Foto: Istimewa

    Calon wakil presiden Sandiaga Uno melihat poster bernada penolakan terhadap dirinya saat berkampanye di Labuhanbatu, Sumatera Utara, Selasa, 11 Desember 2018. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno prihatin dengan neraca perdagangan pada November 2018 yang defisit hingga US$ 2,05 miliar. Menurutnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani akan dapat menurunkan defisit tersebut jika dipimpin oleh Calon Presiden Prabowo Subiyanto. 

    Baca: Video Iklan Prabowo - Sandiaga Ini Dianggap Lecehkan Freelancer

    "Kalau Pak Prabowo itu jadi bosnya Sri Mulyani. itu reformasi struktural itu akan jalan. karena butuh kepemimpinam yang kuat dengan pola kepemimpinan yang tegas," ujar Sandiaga di Hotel Grand Cempaka, Senin, 17 Desember 2018.

    Menurut Sandiaga, defisit neraca perdagangan sudah ia prediksi sebelumnya. Selain geliat ekspor yang kurang, Sandiaga mengatakan, pemerintah saat ini kurang melakukan revitalisasi industri, sehingga angka ekspor komoditas stagnan. 

    Sandiaga membantah pernyataan Sri Mulyani yang menyebutkan salah satu penyebab defisit neraca ialah perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. "Jangan kita menari di genderangnya Amerika dan Tiongkok. Kita harus bangun kekuatan kita dan ini salah satu kesempatan yanng baik kita memperbaiki internal ekonomi," tutur dia.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, neraca perdagangan di bulan November 2018, membengkak dikarenakan adanya dinamika global yang tinggi dan tidak menentu. "Kita harus melihat bahwa faktor ekonomi luar dri sisi ekspor akan menjadi tantangan," ujar dia.

    Sepanjang bulan lalu, neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit US$ 2,05 miliar seiring besarnya defisit di neraca migas. Nilai defisit ini disebabkan posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar US$ 14,83 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor sebesar sebesar US$ 16,88 miliar.

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengungkapkan penyebabnya adalah defisit di neraca migas yang mencapai US$1,46 miliar pada November 2018. "Defisit di neraca migas ini disebabkan defisit yang cukup besar di hasil minyak sebesar US$1,58 miliar," kata Suhariyanto, Senin, 17 Desember 2018

    Sementara itu, defisit nonmigas tercatat sebesar US$ 583,2 juta. Secara kumulatif (Januari-November), BPS melaporkan neraca perdagangan masih defisit sebesar US$ 7,52 miliar. Posisi ini jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya yang mengalami surplus US$ 12,08 miliar.

    Nilai ekspor per November turun 6,69 persen menjadi US$ 14,83 miliar disebabkan oleh penurunan ekspor migas. Ekspor hasil minyak, minyak mentah dan gas juga turun. Sementara itu, ekspor nonmigas juga turun sebesar 6,25 persen dari bulan sebelumnya.

    Simak terus berita tentang Sandiaga hanya di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.