PT INKA: 15 Kereta Pesanan Bangladesh Dikirim Awal 2019

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Budi Noviantoro, Direktur Utama PT. INKA (Persero) memaparkan kesiapan perseroan memasuki pasar ekspor kereta api. Saat ini pihaknya sedang menyelesaikan kontrak pembangunan 350 unit kereta pesanan Bangladesh. Selain itu setidaknya INKA juga sedang menyelesaikan proyek pesanan dari negara Filifina. TEMPO/Parliza Hendrawan

    Budi Noviantoro, Direktur Utama PT. INKA (Persero) memaparkan kesiapan perseroan memasuki pasar ekspor kereta api. Saat ini pihaknya sedang menyelesaikan kontrak pembangunan 350 unit kereta pesanan Bangladesh. Selain itu setidaknya INKA juga sedang menyelesaikan proyek pesanan dari negara Filifina. TEMPO/Parliza Hendrawan

    TEMPO.CO, Madiun -Madiun - Senior Manager Humas, Sekretariat, dan Protokoler PT Industri Kereta API atau PT INKA (Persero), Hartono mengatakan bahwa 15 dari 250 kereta penumpang pesanan Bangladesh sudah selesai diproduksi. Dalam waktu dekat, proses distribusi tahap pertama segera dilakukan. “Awal 2019 akan dikirim,” kata dia, Ahad, 16 Desember 2018.

    BACA: Pabrik Baru di Banyuwangi, PT INKA Rogoh Dana Rp 100 Miliar

    Sedangkan 235 kereta pesanan yang lain, ia melanjutkan, masih terus diproduksi hingga beberapa waktu ke depan.  Setelah jadi, proses distribusinya dilakukan secara bertahap dengan menggunakan kapal pengangkut menuju ke Bangladesh. Adapun nilai kontrak pengadaan kereta penumpang untuk Bangladesh ini mencapai Rp 700 miliar.

    Selain kereta penumpang untuk Bangladesh, Hartono mengungkapkan, PT INKA juga fokus pada pengerjaan kontrak proyek yang sudah berjalan. Proyek itu di antaranya, kereta Light Rail Transit (LRT) Jabodebek (Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi) sebanyak 31 rangkaian; dan 438 kereta pesanan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero.

    Pekerjaan itu merupakan bagian dari seluruh kontrak yang didapat PT INKA dengan target penjualan sebanyak Rp 3,1 triliun pada 2018. Hingga Desember pekan kedua, raihan penjualan mencapai Rp 3,09 persen. Hartono optimistis target yang ditetapkan akan terpenuhi hingga akhir tahun ini.

    Sedangkan nilai target penjualan pada 2019 ditetapkan sebanyak Rp 3,7 triliun. Peningkatannya mencapai Rp 600 miliar atau sekitar 16 persen dibandingkan dengan 2018. Untuk memenuhi target itu PT INKA berusaha meningkatkan penjualan di dalam maupun luar negeri.

    Untuk pasar luar negeri, ia melanjutkan, proposal penawaran pembuatan kereta yang diajukan ke Sri Lanka sudah disetujui. Adapun nilai kontraknya hampir mencapai Rp 700 miliar untuk pengadaan beberapa jenis kereta penumpang dan kereta barang.

    PT INKA juga mengejar proyek pengadaan 75 kereta barang untuk Bangladesh. Hingga kini, proses tender sedang berjalan. Peluang lain adalah pengerjaan lokomotif yang masih dibutuhkan Thailand. Selain itu, PT INKA juga berusaha meneruskan kerjasama dengan Filipina yang sebelumnya sudah berjalan yaitu pengadaan kereta diesel dan lokomotif.

    Peluang ekspor lain, Hartono menuturkan dengan mengikuti tender pengadaan 50 lokomotif untuk Thailand. Juga penjualan komponen pendingin udara atau AC kereta ke Malaysia. Sedangkan untuk pasar dalam negeri, PT INKA diprediksi juga akan menggarap 68 kereta rel diesel elektrik (KRDE) jarak jauh yang dibutuhkan PT KAI.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.