Kemenko Maritim: Jika Menambah Utang Saja, Rupiah Justru Melemah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    Pegawai bank menghitung uang dolar Amerika Serikat pecahan 100 dolar dan uang rupiah pecahan Rp 100 ribu di kantor pusat Bank Mandiri, Jakarta, Senin, 20 Agustus 2018. Nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, 20 Agustus 2018, bergerak melemah 20 poin ke level Rp 14.592 dibanding sebelumnya Rp 14.572 per dolar Amerika. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan berdialog dengan Deputi Kementeriannya di sela kunjungan ke Korea Selatan pagi ini. Dalam dialog itu, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim, Purbaya Yudhi Sadewa merespons kritik yang mengatakan bahwa penguatan yang terjadi pada rupiah dikarenakan pemerintah menambah utang baru.

    Baca juga: Rupiah Pagi Ini Dibuka Melemah ke Level 14.498 per Dolar AS

    “Kalau hanya karena utang saja, maka rupiah justru akan melemah karena pasar melihat bahwa kita tak berdaya dan hanya mengandalkan utang saja untuk mengatasi masalah ekonomi kita," ujar Purbaya dalam keterangan tertulis, Jumat, 14 Desember 2018.

    Menurut dia ada beberapa faktor yang mendorong penguatan rupiah saat ini seperti, fundamental ekonomi Indonesia yang jauh lebih kuat dari dugaan banyak pengamat. Ekonomi di triwulan III tahun 2018 masih tumbuh di atas 5 persen.

    “Inflasi masih terkendali, stabilitas sosial politik masih terjaga dengan baik artinya tidak ada perburukan pada variabel-variabel ekonomi Indonesia," kata dia.

    Purbaya mengatakan perjanjian swap dengan Singapura dan Cina baru-baru ini, menunjukkan kepercayaan kedua negara tersebut kepada Indonesia masih tinggi. "Ini juga sekaligus memperkuat second line of defense terhadap mata uang rupiah," kata Purbaya.

    Menurut dia pelaku bisnis dari luar negeri juga percaya kepada Indonesia seperti mulai terlihat arus direct investment ke Indonesia. "Seperti investasi di Morowali, Weda Bay, CPC Taiwan, dan baru baru ini Pegatron. Ini semua menunjukkan iklim investasi di Indonesia mengalami perbaikan yang signifikan," kata dia kepada Luhut.

    Luhut mengatakan dengan aktifnya Presiden, dirinya dan menteri-menteri lain melakukan road show untuk bertemu investor sambil menjelaskan bahwa keadaan ekonomi Indonesia masih berada pada jalurnya juga menjadi faktor yang menenangkan bagi para penanam modal.

    “Perkembangan inilah yang membuat para investor di pasar obligasi tidak memindahkan investasinya ke negara lain, di sisi lain investor saham mulai masuk kembali ke Indonesia," kata Purbaya.

    Purbaya mengatakan faktor-faktor tersebut lah yang membuat banyak kalangan semakin sadar bahwa fondasi ekonomi Indonesia baik, termasuk nilai tukar rupiah. "Dalam keadaan demikian tidak ada alasan lagi spekulan untuk berspekulasi dolar, mereka lebih memanfaatkan uang mereka untuk usaha," ujar Purbaya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.