Gubernur Bank Indonesia Yakin Keuangan Syariah Tumbuh 20 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa, 27 November 2018. Dalam pidatonya, Perry Warjiyo memaparkan rencana kebijakan moneter bank sentral pada 2019.  ANTARA/Puspa Perwitasari

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan sambutan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Tahun 2018 di Jakarta, Selasa, 27 November 2018. Dalam pidatonya, Perry Warjiyo memaparkan rencana kebijakan moneter bank sentral pada 2019. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.COSURABAYA - Bank Indonesia optimistis pangsa pasar keuangan syariah dapat mencapai 20% terhadap total aset keuangan nasional dalam lima tahun mendatang. Pasar keuangan syariah diprediksi tumbuh seiring dengan penerbitan instrumen keuangan syariah yang bervariasi. 

    Simak: Bank Indonesia: Pelemahan Rupiah karena Sentimen Global

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, pangsa pasar keuangan syariah terus tumbuh dari hanya 5% pada beberapa tahun sebelumnya menjadi kisaran 8% pada tahun ini. Melalui penerbitan instrumen keuangan syariah yang bervariasi, pangsa pasar keuangan syariah diyakini dapat tembus dua digit. 

    Dia berharap keuangan syariah memiliki pangsa pasar 20% dalam lima tahun mendatang. Harapan ini didorong oleh sektor perbankan, serta penerbitan instrumen keuangan pasar modal maupun keuangan sosial seperti wakaf dan pengembangan zakat. 

    "Kami juga menjalin kerja sama dengan kementerian dan lembaga agar pembiayaan infrastruktur bisa dibiayai dengan instrumen keuangan seperti sukuk. Kami juga dorong sektor ekonominya sehingga syariah bisa dua digit dalam 5 tahun bisa dicapai," katanya dalam konferensi pers Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2018, pada Selasa 12 Desember 2018. 

    Diketahui, Bank Indonesia akan meluncurkan Sukuk Bank Indonesia. Instrumen ini bertujuan untuk menambah alternatif instrumen pasar uang syariah yang tradable dan dapat menajdi solusi jangka pendek kebutuhan likuiditas perbankan. 

    Instrumen Sukuk tersebut akan melengkapi instrumen moneter syariah BI yang ada saat ini seperti Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Fasilitas Bank Indonesia Syariah (FASBIS), reverse repo syariah, dan repo SBSN. 

    Sukuk Bank Indonesia juga akan mensejajarkan Bank Indonesia dengan bank sentral-bank sentral lain yang telah terlebih dahulu menerbitkan Sukuk bank sentral seperti Bank Negara Malaysia, Central Bank of Bahrain, dan Central Bank of Jordan.

    "Sukuk BI sekarang sedang dalam proses harmonisasi untuk peraturan Bank Indonesianya," katanya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.