BPS Sebut 3 Tantangan dalam Pengembangan Desa

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti di kantor BPS Indonesia, Pasar Baru, Jakarta, 15 Maret 2018. TEMPO/Lani Diana

    Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan dalam mengembangkan desa/kelurahan terdapat permasalahan dan kendala yang menjadi tantangan masing-masing desa. Suhariyanto menjelaskan tantangan itu di antaranya bencana alam, pencemaran, dan gangguan keamanan.

    Baca juga: BPS: Desa Tertinggal Berkurang 6.518, Target RPJM Terlewati

    "Pertama, jenis bencana alam yang di data dalam 3 tahun terakhir yaitu tanah longsor, banjir, banjir bandang, gempa bumi, tsunami, gelombang pasang laut, angin puyuh, gunung meletus kebakaran hutan dan kekeringan," ujar dia di gedung BPS, Senin, 10 Desember 2018.

    Selama 3 tahun ini, kata dia, sebanyak 19.675 desa/kelurahan terkena dampak banjir, 10.246 desa/kelurahan terkena tanah longsor, dan 10.115 desa/kelurahan terkena dampak gempa bumi.

    Suhariyanto mengatakan dalam pendataan Potensi Desa 2018 ini mencatat mitigasi bencana yang disiapkan oleh desa/kelurahan yaitu peringatan dini bencana alam, penyediaan jalur evakuasi baru, penyediaan perlengkapan keselamatan dan upaya penyediaan peringatan dini tsunami.

    Kedua, yaitu tantangan terhadap pencemaran air, udara dan tanah. Berdasarkan hasil pendataan BPS, pencemaran air terjadi di 16.847 desa, pencemaran udara terjadi di 8.882 desa dan pencemaran tanah di 2.200 desa.

    "Pencemaran ini dapat bersumber dari rumah tangga, pabrik, industri dan tempat usaha," kata dia.

    Ketiga, yaitu tantangan keamanan lingkungan. Menurut pendataan yang dilakukan jenis tindakan yang paling sering terjadi yaitu penyalahgunaan dan peredaran narkoba 14,99 persen serta perkelahian massal 3,75 persen. "Kalau narkoba ini paling banyak di Sumatera, Jawa Timur, dan Aceh dan perkelahian ini paling banyak di Papua dan NTT," ujar Kepala BPS tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Animal Crossing dan 9 Aplikasi Makin Dicari Saat Wabah Covid-19

    Situs Glimpse melansir peningkatan minat terkait aplikasi selama wabah Covid-19. Salah satu peningkatan pesat terjadi pada pencarian Animal Crossing.