2019, Tren Suku Bunga Naik Belum Berpengaruh ke Properti Karena..

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para agen penjual rumah tengah menawarkan rumah tinggal pada pameran Properti di sebuah Mall kawasan Jakarta, 21 Maret 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Para agen penjual rumah tengah menawarkan rumah tinggal pada pameran Properti di sebuah Mall kawasan Jakarta, 21 Maret 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah kalangan memperkirakan tren kenaikan suku bunga acuan dalam negeri yang bakal masih berlanjut hingga tahun depan tidak akan berdampak signifikan kepada sektor properti

    Baca: Rumah.com: Pasar Properti 2019 Diprediksi Stabil meski Pilpres

    Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. atau BCA, David E. Sumual mengungkapkan sebenarnya semua sektor akan terdampak dengan adanya kenaikan suku bunga. Namun, sektor yang memiliki dampak langsung adalah properti. "Tidak semua segmen properti (yang terdampak kenaikan suku bunga). Hanya yang pembeliannya terkait investasi," katanya, Ahad, 9 Desember 2018. 

    Sementara itu, segmen properti seperti rumah tinggal dan apartemen untuk kelompok masyarakat berpenghasilan menegah ke bawah akan tetap diminati. Hal tersebut didasari oleh masih cukup besarnya backlog perumahan di dalam negeri, yakni 13 juta rumah. 

    Dengan demikian, pembelian properti yang sifatnya konsumsi masih akan tetap tumbuh dengan baik. Umumnya, David melihat pembelian properti dengan tujuan konsumsi tidak sensitif terhadap suku bunga. 

    Adapun, pembelian properti dengan tujuan investasi akan cenderung wait and see pada tahun depan. Namun, dia yakin kondisi tersebut akan berangsur hilang. Pasalnya, kondisi pasar properti di dalam negeri masih cenderung sehat dibandingkan pasar di Cina. Sekitar 24 persen rumah yang dibangun Cina kosong, tanpa pemilik, sehingga pemerintahnya harus memberikan insentif. 

    Direktur Riset CORE Indonesia Piter R. Abdullah mengungkapkan sektor properti memang akan terpengaruh dengan kenaikan suku bunga. Namun, dia melihat kenaikan suku bunga BI belum terlalu tinggi sehingga pengaruh kepada penyaluran kredit belum signifikan, termasuk di sektor properti. 

    "Penyaluran kredit masih lebih dominan dipengaruhi oleh permintaan yang ditentukan oleh ekspektasi dan kondisi makro termasuk diantaranya harga komoditas dan pertumbuhan ekonomi," ujar Piter. 

    Meski begitu, Piter mengkhawatirkan kemampuan kelompok masyarakat menegah bawah dalam membeli rumah. Ia menilai kelompok ini akan menahan pembelian sehingga berpengaruh kepada permintaan kredit properti. 

    Baca: Perumahan Bersubsidi Diprediksi Topang Pertumbuhan Properti 2019

    Oleh karena itu, untuk menjaga sentimen di pasar properti, BI memang harus melonggarkan kebijakan makroprudensialnya melalui instrumen LTV (loan to value). "Kalau tidak, perbankan kita akan semakin sulit. Demand yang rendah dan likuditas yang sempit," ucap Piter. 

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tata Tertib Penonton Debat Capres 2019, KPU Siapkan Kipas

    Begini beberapa rincian yang perlu diperhatikan selama debat Capres berlangsung pada Kamis, 17 Januari 2019. Penonton akan disediakan kipas oleh KPU.