Sri Mulyani Minta Kampus Vokal Hadapi Isu Perubahan Iklim

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara dalam acara AIFED ke-8 di Nusa Dua, Bali, Kamis, 6 Desember 2018. Tempo/Fajar Pebrianto

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara dalam acara AIFED ke-8 di Nusa Dua, Bali, Kamis, 6 Desember 2018. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani meminta kampus-kampus di Indonesia harus vokal mengenai isu pemanasan global atau global warming dan perubahan iklim. Dia mengatakan sudah banyak bukti ilmiah yang bisa menjadi rujukan bahwa di negara mana pun dan siapaun saat ini terdampak oleh adanya pemanasan global.

    Baca : Sri Mulyani Terbitkan Aturan Baru Soal Tarif Ekspor CPO Nol

    "Karena itu, saya termasuk yang berharap sangat tinggi kepada kampus-kampus di Indonesia menjadi the greater voice and champion untuk isu perubahan iklim atau climate change," kata Sri Mulyani melalui akun resmi instagram miliknya, pada Ahad, 9 Desember 2018.

    Hingga pukul 16.50 WIB, unggahan Sri Mulyani tersebut telah disukai sebanyak 4.944 akun instagram serta mendapat 37 komentar. Dalam unggahan tersebut, Sri Mulyani mengatakan bahwa ia sebelumnya hadir dan menjadi pembicara kunci dalam acara seminar "Towards Zero Carbon" di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat pada Jumat, 7 Desember 2018.

    Perubahan iklim merupakan fenomena pergeseran iklim secara jangka panjang yang dimulai dari suhu, curah hujan dan angin. Dalam berbagai forum di Indonesia, isu perubahan iklim seringkali disebut juga sebagai pemanasan global. Kondisi ini mengacu secara khusus untuk keadaan peningkatan suhu bumi yang kemudian mendorong terjadinya perubahan iklim. 

    Dalam unggahan tersebut, Sri Mulyani juga mengutip laporan yang dibuat oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Menurut dia, dalam laporan tersebut diketahui bahwa akibat aktivitas manusia menuju industrialisasi maka aktivitas tersebut telah menyebabkan suhu temperatur dunia menjadi naik 1 derajat dibandingkan Pre Industrial Level Temperatur.

    "Kalau kita membiarkan bumi makin menghangat maka akan menimbulkan pengaruh hal yang sangat signifikan terhadap bumi dimanapun kita berada," katanya.

    Mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini juga menuturkan bahwa apabila dunia tetap bersikap bisnis as usual terhadap isu perubahan iklim maka tidak bisa dipungkiri akan muncul berbagai macam risiko. Baik di bidang kesehatan, kemanan, ketahanan pangan, persediaan air dan konsekuensi terhadap ekonomi dan sosial masyarakat. Nantinya, kelompok yang paling rentan terdampak terhadap adanya fenomena ini adalah kelompok masyarakat yang paling miskin.

    Karena itu, Sri Mulyani berharap kampus-kampus di Indonesia untuk bisa berusara lebih lantang mengenai adanya isu atau persoalan perubahan iklim. Kampus sudah seharunya menjadi prominent voice atau champion untuk memahami climate change, melakukan advokasi dan ikut serta aktif untuk selalu memperhatikan perkembangan isu mengenai perubahan iklim.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Bansos Rp 31 Triliun untuk 13 Juta Pekerja Bergaji di Bawah Rp 5 Juta

    Airlangga Hartarto memastikan pemberian bansos untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta. Sri Mulyani mengatakan anggaran bansos hingga Rp 31 triliun.