Ini Proses Aksi Intervensi BI Menahan Pelemahan Rupiah

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di gedung MPR/DPR/DPP, Jakarta, 3 Maret 2014. Dok.TEMPO/Seto Wardhana

    Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di gedung MPR/DPR/DPP, Jakarta, 3 Maret 2014. Dok.TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan belakangan ini terjadinya risk-off dan aksi flight to quality di pasar keuangan global yang membuat rupiah sempat melemah ke Rp 14.550 per dolar Amerika Serikat. 

    BACA: Bank Indonesia: Pelemahan Rupiah karena Sentimen Global

    Namun, kata Nanang, dengan aktifnya Bank Indonesia melakukan intervensi dalam bentuk transaksi Non-Deliverable Forward (DNDF) sepanjang sesi perdagangan, Rupiah ditutup menguat Rp 50 atau 0,32 di angka Rp 14.465. Penguatan itu, jika dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang Rp 14.515.

    "Risk off di pasar keuangan global terutama dipicu kekhawatiran pasar terhadap kembali meningkatnya tensi sengketa dagang menyusul ditangkapnya CFO Huawei Techologies, Wanzhou Meng di Canada yang akan diekstradisi ke AS," kata Nanang melalui aplikasi Whatsapp, Jumat, 7 Desember 2018.
     
    Kekhawatiran pasar tersebut, kata Nanang telah mendorong pelemahan indeks saham global. Sementara yield UST berlanjut turun hingga ke 2,83 persen, level terendah sejak Sep 2018 karena meningkatnya ekspektasi pasar terhadap perlambatan ekonomi AS menyusul rilis data ekonomi AS yang melemah.

    Nanang mengatakan kurva imbal hasil (yield curve) di pasar oabligasi AS cenderung inverted, bahkan spread yield obligasi dua dan lima tahun sudah negative
     
    Menurut Nanang beberapa data ekonomi AS yang dirilis mengindikasikan ekonomi AS tidak sesolid sekitar tiga bulan sebelumnya. Penyerapan tenaga kerja di bawah ekspektasi, defisit perdagangan melebar (terbesar dalam 10 tahun terakhir), pesanan pabrikan melambat. "Probabilitas kenaikan suku bunga Fed Fund Rate di Desember 2018 menurun dari 80 persen menjadi 69 persen," kata Nanang.

    Lebih lanjut Nanang mengatakan risk-off di pasar keuangan global tersebut atau fear of recession memicu melonjaknya  kurs NDF-IDR di pasar New York hingga rupiah di level Rp 14.680.

    "Sejak pembukaan pasar hingga penutupan, Bank Indonesia melakukan intervensi transaksi DNDF dan berhasil menurunkan kurs DNDF yang kemudian diikuti oleh menurunnya kurs NDF di pasar luar negeri dan kurs spot di dalam negeri," ujar Dia.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.