Minggu, 16 Desember 2018

Kemenkeu: Bonus Demografi Dorong RI Jadi Negara Maju pada 2045

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bonus Demografi, Berkah atau Musibah

    Bonus Demografi, Berkah atau Musibah

    TEMPO.CO, Nusa Dua - Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan atau Kemenkeu, Suahasil Nazara yakin bonus demografi bakal menjadi salah satu modal bagi Indonesia untuk naik kelas menjadi negara maju pada 2045. Tahun tersebut bertepatan dengan perayaan 100 tahun kemerdekaan RI.

    Baca: Kemenkeu Beberkan Penyebab Penyerapan Anggaran Seret

    Suahasil mengatakan naik kelasnya ekonomi Indonesia pada 2045 akan ditopang oleh bonus demografi, usia produktif, urbanisasi, jumlah kelas menengah, dan sektor jasa yang lebih produktif. “Oleh karenanya, Indonesia membutuhkan infrastruktur, sumber daya manusia, teknologi, perencanaan wilayah, sumber daya ekonomi dan keuangan, stabilitas makro dan politik, serta kepastian hukum,” katanya di Nusa Dua, Bali, Jumat, 7 Desember 2018.

    Hal tersebut disampaikan dalam acara The 8th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED). Menurut Suahasil, selama ini kinerja ekonomi Indonesia sudah sangat kuat dan konsisten di atas 5 persen. “Kualitas pertumbuhan yang dihasilkan juga semakin membaik, hal ini ditunjukkan oleh turunnya kemiskinan, rasio gini, dan pengangguran,” ujarnya.

    Namun demikian, Suahasil menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan antara lain gejala deindustrialisasi, ketergantungan pada komoditas, dan industri yang terkonsentrasi di Jawa. Selain itu masih ada masalah kualitas tenaga kerja, dan kemampuan adaptasi teknologi.

    Sementara itu, ekonom Harvard Kennedy School and Peterson Institute for International Economics Robert Z Lawrence menjelaskan, globalisasi dan perubahan teknologi akan memberikan kesempatan pertumbuhan dan standar hidup yang lebih tinggi kepada negara-negara di dunia. Akan tetapi, ketidakseimbangan perdagangan global memaksa sebagian negara melakukan proteksionisme.

    Baca: Sri Mulyani Ubah Gaya Komunikasi Kemenkeu, Gunakan Medsos

    Bagi Indonesia, menurut Robert, perkembangan global tersebut memperlemah prospek ekonomi khususnya dari komoditas tapi memberikan kesempatan kenaikan ekonomi melalui diversifikasi ekspor. "Dan keterlibatan lebih kuat dalam Global Value Chain (GVC),” tuturnya. Kesempatan itu dapat diraih oleh Indonesia melalui perbaikan dalam pendidikan dan pelatihan serta perlindungan sosial dalam ketenagakerjaan.

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".