Apindo: Target Defisit Transaksi Berjalan Sulit Tercapai

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal kargo melakukan bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 27 Agustus 2015. Tujuh langkah untuk mengurangi waktu bongkar muat, di antaranya dengan mempercepat proses pengeluaran barang impor di pelabuhan, perbaikan TIK, dan penyederhanaan perizinan dari 124 izin di 20 kementerian dan lembaga menjadi 20 izin. TEMPO/Tony Hartawan

    Kapal kargo melakukan bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 27 Agustus 2015. Tujuh langkah untuk mengurangi waktu bongkar muat, di antaranya dengan mempercepat proses pengeluaran barang impor di pelabuhan, perbaikan TIK, dan penyederhanaan perizinan dari 124 izin di 20 kementerian dan lembaga menjadi 20 izin. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani pesimistis melihat target pemerintah dan Bank Indonesia untuk menurunkan defisit transaksi berjalan. Target defisit transaksi berjalan atau CAD ke 2,5 persen terhadap produk domestik bruto dinilai cukup berat.

    Baca: Bank Dunia Menilai Kebijakan Jokowi Ini Tak Redam Defisit

     

    Pasalnya, menurut Shinta, karena saat ini Indonesia masih banyak bergantung pada produk impor. "Bagus optimistis, tapi sangat berat. Karena kita masih bergantung pada impor sangat besar, jadi mau tekan impor kayak apa masih sangat sulit," katanya di Gedung Permata Kuningan, Rabu, 5 Desember 2018.

    Bahkan, Shinta memperkirakan CAD akan meningkat. "Kalau kita kalkulasi saja impor besarnya kita itu bahan baku, kalau bahan konsumsi yang mau diberhentiin itu seberapa persen sih? Insignifikan sekali. Mau itu disetop pun apa? Tidak akan berdampak banyak pada CAD," ujar dia.

    Menurut Shinta program B20 yang diterapkan pemerintah,  juga belum terlalu berpengaruh terhadap menekan impor, karena penggunaan B20 masih terdapat kendala. "Tadi disampaikan itu bisa merusak dari segi mesin. Tidak segampang itu. Kami mau dorong, tapi tidak segampang itu menggunakan secara menyeluruh," ujarnya. "Tapi dari dunia usaha akan terus mendukung, percuma komplain tanpa solusi."

    Shinta mengatakan para pengusaha akan terus genjot pasar ekspor lebih banyak, namun juga butuh lebih penetrasi yang terfokus. Seperti melakukan pemetaan dan mendorong produk unggulan Indonesia.

    Lebih lanjut Shinta mengatakan, jika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM tahun depan, hal itu sangat membantu menekan CAD. "Kalau 2,5 persen diiringi kenaikan BBM saya yakin bisa tercapai," ujarnya. "Ya kalau misal pemerintah berani untuk menaikkan harga BBM akan membantu dengan sendirinya. Kalau tidak, saya kira sulit."

    Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yakin CAD bisa menurun menjadi minus 2,5 persen pada tahun ini. Sedangkan pada tahun depan ia memprediksi CAD akan menjadi minus 2 persen terhadap PDB.

    "Ke depan kami perkirakan untuk tahun 2019 kami perkirakan defisit transaksi berjalan itu akan turun. Kami perkirakan untuk 2018 ini defisit transaksi berjalan kurang lebih sekitar 2,5 persen PDB, tahun depan kami perkirakan turun menjadi 2 persen," kata Perry di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu, 5 September 2018.

    Baca: Urusan Defisit BPJS sampai ke Presiden, Jokowi: Kebangetan

    Pada kesempatan yang berbeda Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan harga BBM akan naik pada pertengahan 2019. Hal itu karena saat ini pemerintah berupaya fokus menekan defisit transaksi berjalan atau CAD. "Kalau soal harga BBM ya nanti lah. Ini kan paling juga setelah, dalam pertengahan tahun naik," kata Darmin akhir November lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...