Lonjakan Penumpang Kereta Api Diprediksi 4,5 Persen

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Melancong ke destinasi wisata menggunakan transportasi kereta api.

    Melancong ke destinasi wisata menggunakan transportasi kereta api.

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Lalu Lintas Kereta Api Zulmafendi Kementerian Perhubungan memprediksi peningkatan pada pengguna kereta api selama libur natal dan tahun baru 2019 mencapai 5,31 juta penumpang. Jumlah tersebut meningkat sebanyak 4,5 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar 5,08 juta.

    "Tahun ini kami melihat adanya lonjakan penumpang jika dibandingkan dengan sebelumnya," kata Zulmafendi saat konferensi pers libur natal dan tahun baru 2019 di Kementerian Perhubungan, Rabu, 5 Desember 2018.

    PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyiapkan 346 perjalanan kereta api reguler serta 48 perjalanan kereta api tambahan selama masa angkutan Natal dan Tahun Baru 2019. Sehingga total jumlah kereta api yang siap melayani masyarakat pada masa angkutan Natal-Tahun Baru kali ini adalah 394 perjalanan kereta api.

    Dari aspek sarana kereta api, tahun ini KAI menyiagakan 444 unit lokomotif dan satu unit lokomotif cadangan serta 1.637 unit kereta dan 218 unit kereta cadangan. KAI mengoperasikan 24 nama kereta api tambahan (48 perjalanan kereta api) dengan total kapasitas seat sebanyak 27.560 per hari.

    Kereta tersebut sebagian besar mulai beroperasi pada 20 Desember 2018 hingga 7 Januari 2019. Pada beberapa kereta api seperti Brantas Tambahan dan Mataram Premium, operasionalnya akan dimulai sejak 13 Desember 2018.

    Sementara itu, untuk ketersediaan tempat duduk, hingga 3 Desember 2018 jumlah tempat duduk di kereta api tambahan masih tersedia sebanyak 75 persen. Sedangkan untuk kereta api reguler masih tersedia 61 persen tempat duduk.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.