2 Masalah Startup di RI Menurut Yayasan Startup Indonesia

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • "Bapak Blogger Indonesia", Enda Nasution: Mastodon Belum Jadi Ancaman

    Jakarta- Ketua Yayasan Startup Indonesia Enda Nasution mengatakan ada dua permasalahan startup di Indonesia. Permasalahan tersebut antara lain, ketersediaan talenta digital dan soal keuangan.

    Baca juga: Tempo Umumkan Pemenang Startup Pilihan 2018

    "Jadi masih jauh kita bandingkan dengan negara tetangga, masih ada PR dari sisi talent kita sendiri. Tentunya kita butuh talent di situ," kata Enda dalam cara Senyawa bersama Tempo di Hotel Monopoli, Jakarta, Sabtu, 1 Desember 2018.

    Enda menjelaskan, ketersediaan talenta digital di Indonesia masih sedikit jika dibandingkan dengan negara lain. Hal tersebut disebabkan ekosistem yang masih dibentuk. Menurut Enda, pembentukan ekosistem membutuhkan usaha yang lebih keras dan tidak mudah menyerah.

    "Semua startup sulit hiring talent, begitu sudah bagus, mereka (talenta digital) dapat tawaran di tempat lain," tutur Enda.

    Selain itu, permasalahan startup lainnya ialah keuangan. Permasalahan ekosistem juga mempengaruhi investor yang akan menyuntikkan dana. "Kata kuncinya ekosistem yang terbentuk," ucap Enda.

    Karena itu, Yayasan Start Up Indonesia dibentuk. Enda mengatakan pembetukan yayasan ini untuk membantu pengusaha perintis agar dapat menyelesaikan permasalahan start up bersama-sama. Kemudian, di yayasan ini juga dapat mempertemukan antara investor dan pengusaha perintis.

    Yayasan Startup Indonesia, merupakan wadah untuk saling mendukung para pengusaha startup mengembangkan usahanya. Salah satunya membangun relasi antar pengusaha dengan investor, dari dalam negeri maupun luar negeri."Kami masih soft lancuh, kami akan up date program kami selama satu tahun," ujar Enda.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.