Darmin Nasution Perkirakan Harga BBM Naik Pertengahan 2019

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution saat memberikan pidato kunci terkait dinamika ekonomi digital di acara diskusi Digital Economic Briefing 2017 yang digelar oleh Tempo Media Group di Gedung Indosat Ooredoo Pusat, Jakarta , 16 November 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution saat memberikan pidato kunci terkait dinamika ekonomi digital di acara diskusi Digital Economic Briefing 2017 yang digelar oleh Tempo Media Group di Gedung Indosat Ooredoo Pusat, Jakarta , 16 November 2017. Tempo/M JULNIS FIRMANSYAH

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan harga BBM akan naik pada pertengahan 2019. Hal itu karena saat ini pemerintah berupaya fokus menekan defisit transaksi berjalan atau CAD.

    Baca: Harga BBM Premium Batal Dinaikkan, Ini Pertimbangan Jokowi

    "Kalau soal harga BBM ya nanti lah. Ini kan paling juga setelah, dalam pertengahan tahun naik," kata Darmin di kantornya, Jumat, 30 November 2018.

    Pada Rabu sore, 10 Oktober 2018, Menteri ESDM Ignasius Jonan menyatakan pemerintah berencana mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM Premium menjadi Rp 7.000 per liter. Namun selang setengah jam kemudian Jonan mengoreksi pernyataannya dan menyampaikan kenaikan harga BBM premium dibatalkan.

    Adapun malamnya Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan pemerintah belum menaikkan harga BBM Premium.

    "Jadi kami baru tahu tadi setelah Pak Jonan sampaikan pengumuman bahwa akan naik dan kemudian kami tanyakan Menteri Rini, apakah bisa dilaksanakan atau tidak, Menteri Rini melakukan crosscheck dengan Pertamina dan sampaikan bahwa kami tidak siap untuk menaikkan dua kali dalam satu hari," kata Fajar saat menggelar konferensi pers di Indonesia Paviliun, Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018.

    Empat hari kemudian, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjelaskan sisi konsumsi masih berkontribusi dominan terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 56 persen. Menaikkan harga premium, kata Jokowi, justru bisa menurunkan tingkat konsumsi masyarakat.

    Untuk itu, Jokowi memanggil Pertamina untuk melihat hitung-hitungan jika harga BBM naik. Tetapi lantaran dari hitungan tersebut keuntungan tambahan Pertaminan tidak signifikan, Jokowi memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM jenis premium.

    Dengan keputusan itu, Jokowi mengatakan tidak ada lagi opsi menaikkan harga BBM jenis Premium dalam waktu dekat. "Ndak, ndak, sudah saya batalkan dengan hitungan-hitungan, dengan angka-angka yang sangat realistis," tutur Jokowi, 14 Oktober 2018.

    DIAS PRASONGKO | CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.