Di KTT G20, Sri Mulyani Sebut Ekonomi RI Menarik untuk Investasi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati berpidato dalam pertemuan negara-negara G-20 di Buenos Aires, Argentina, 20 Maret 2018.  facebook.com

    Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati berpidato dalam pertemuan negara-negara G-20 di Buenos Aires, Argentina, 20 Maret 2018. facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut perekonomian Indonesia saat ini dalam kondisi baik dan menarik bagi investor. "Keadaannya baik dan menarik untuk investasi," ujar dia seperti dikutip dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, Jumat, 30 November 2018.

    Baca: Pemerintah Batalkan Lelang 4 SBN, Sri Mulyani: Pembiayaan Sudah Tercukupi

    Kondisi tersebut, ujar bekas Direktur Bank Dunia itu, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil pada level 5,17 persen pada triwulan III 2018. Belum lagi outlook inflasi selama 2018 bisa mencapai di bawah 3,5 persen. Dengan kondisi seperti itu, Sri Mulyani mengatakan tren investasi meningkat dan memberikan imbas positif kepada perekonomian.

    "Namun demikian, Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan dan risiko global karena adanya peningkatan tensi perang dagang dan pengetatan likuiditas," kata Sri Mulyani.

    Namun, guna menghadapi tantangan dan risiko global itu, Sri Mulyani sudah menyiapkan sejumlah langkah dan strategi. Antara lain dengan mengeluarkan 16 paket kebijakan ekonomi, termasuk penyederhanaan izin perusahaan melalui online single window untuk investasi dan memperluas pemberian insentif fiskal melalui tax holiday dan tax allowance.

    Strategi lain yang dilakukan pemerintah untuk menarik investor, kata Sri Mulyani, adalah melakukan deregulasi aturan untuk mendorong pembangunan infrastruktur antara lain penjaminan untuk pinjaman kepada BUMN yang menangani proyek infrastruktur. Selain itu kebijakan juga dikeluarkan untuk mengakselerasi pengadaan tanah dan pembayaran untuk masyarakat yang terdampak, serta berbagai paket kebijakan untuk memperkuat tingkat keyakinan pemilik modal untuk menginvestasikan dana ke Indonesia.

    Di samping itu, pemerintah juga melakukan reformasi institusi guna membangun infrastruktur. Reformasi yang dilakukan antara lain dengan membuat komite untuk melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur yakni Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas alias KPPIP. Pemerintah juga menggabungkan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dengan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk memperkuat kemampuan pembiayaan serta memperkuat PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF).

    Baca: Prabowo Kritik Rasio Pajak, Sri Mulyani: Makanya Kami Perbaiki

    Selain itu, pemerintah membentuk unit PPP untuk meningkatkan kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), mendirikan Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) untuk menyediakan dana tanah pada proyek strategis nasional, dan membuat Indonesia Infrastructure Guarantee Fund (IIGF) untuk menjamin proyek yang bukan dengan skema KPBU.

    Simak berita lainnya terkait Sri Mulyani hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.