Arus Modal ke Pasar Sekunder SBN 31,8 T Turut Kuatkan Rupiah

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menghitung uang saat melayani penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas menghitung uang saat melayani penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Penguatan nilai tukar rupiah disebut bank sentral sebagai imbas dari masifnya arus modal global ke pasar sekunder Surat Berharga Negara atau SBN. Bank Indonesia atau BI mencatat arus modal global ke pasar sekunder SBN selama November 2018 mencapai Rp 31,8 triliun. Artinya, sepanjang tahun 2018 atau year to date arus modal global ke pasar sekunder SBN telah mencapai Rp 63 triliun. 

    Baca: Faisal Basri Sebut Rupiah Menguat Karena Banyaknya Utang

    Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah mengatakan masuknya arus modal global ke pasar sekunder SBN menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah menguat. Penguatan rupiah ini juga menunjukkan kepercayaan investor global terhadap perekonomian Indonesia yang semakin kuat.

    "Karena respons kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten dan pruden dalam merespons tantangan global dan domestik termasuk dalam mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan," kata Nanang melalui Whatsapp, Kamis malam, 29 November 2018.

    Menurut Nanang, BI mencermati dampak dari dinamika global yang terjadi dan berdampak terhadap penguatan rupiah. Dia melihat masih ada ruang yang besar bagi penguatan rupiah lebih lanjut. Hal ini karena rupiah sempat melemah cukup tajam selama 2018, sehingga penguatan saat ini masih cukup wajar.

    Penguatan rupiah belakangan ini, kata Nanang, juga dipicu pernyataan Chairman The Federal Reserve atau The Fed, Jerome Powell, yang memperlunak pandangannya (stance) terhadap suku bunga kebijakan the Fed. Jerome memandang suku bunga kebijakan The Fed sudah berada sedikit di bawah kisaran suku bunga 'neutral'.

    Pernyataan Powell itu semakin memperkuat keyakinan pasar bahwa trend kenaikan FFR sudah mendekati akhir. "Setelah kenaikan di bulan Desember nanti, pasar memperkirakan hanya ada satu kali kenaikan di tahun 2019," ujar Nanang.

    Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat kemarin. Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR tercatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di angka Rp 14.408 pada 29 November 2018.

    Angka tersebut menunjukkan penguatan 127 poin dari nilai sebelumnya yang sebesar Rp 14.535 pada 28 November 2018. Sedangkan pada 28 November 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 14.608 dan kurs beli Rp 14.462.

    Baca: Rupiah Menguat di Level Rp 14.500 per USD, Jokowi: Alhamdulillah

    Angka Rp 15 ribu per dolar AS pertama kali terjadi pada 3 Oktober 2018. Sedangkan pada pergerakan Jumat, 2 November kembali menyentuh Rp 14 ribu.

    Simak berita lainnya terkait rupiah hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.