BI Paparkan Sejumlah Faktor Pemicu Penguatan Kurs Rupiah

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia memaparkan faktor-faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat dalam beberapa waktu belakangan ini. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Nanang Hendarsah menyebutkan, salah satu pemicunya adalah pernyataan Chairman Federal Reserve, Jerome Powell.

    Baca: Faisal Basri Sebut Rupiah Menguat Karena Banyaknya Utang

    "Jerome Powell memperlunak pandangannya (stance) suku bunga kebijakan The Fed yang dipandang sudah berada sedikit di bawah kisaran suku bunga neutral," kata Nanang dalam pesan Whatsapp, Kamis malam, 29 November 2018.

    Menurut Nanang pernyataan Powell tersebut semakin memperkuat keyakinan pasar, bahwa trend kenaikan Fed Funds Rate sudah mendekati akhir. Setelah kenaikan di bulan Desember nanti, kata Nanang, pasar memperkirakan hanya ada satu kali kenaikan di tahun 2019.

    Nanang melihat pasar juga optimis dengan semakin terbukanya kesepakatan dagang antara AS dan Cina, yang akan di negoisasikan di antara kedua Pimpinan negara itu pada pertemuan KTT G20 di Argentina.

    Dia juga melihat dua faktor global utama, yaitu ekspektasi kenaikkan suku bunga the Fed dan tensi perang dagang yang terus memanas, yang selama April - September 2018 terus menekan rupiah. Namun pada saat ini, sudah memberikan iklim yang lebih kondusif bagi terciptanya stabilitas nilai tukar rupiah. "Dengan tidak tertutup kemungkinan akan membuat rupiah semakin menguat," ujar Nanang.

    Faktor positif lainnya, kata Nanang adalah terus merosotnya harga minyak mentah dunia, yang sudah menyentuh US$ 50 per barel, yang dapat mengurangi tekanan pada defisit neraca perdagangan migas Indonesia ke depan.

    Menurut Nanang, BI mencermati dampak dari dinamika global yang terjadi dan berdampak terhadap penguatan rupiah. Dia melihat masih ada ruang yang besar bagi penguatan rupiah lebih lanjut. Hal ini karena rupiah sempat melemah cukup tajam selama 2018, sehingga penguatan saat ini masih cukup wajar.

    Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat kemarin. Dalam situs resmi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR tercatat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di angka Rp 14.408 pada 29 November 2018.

    Angka tersebut menunjukkan penguatan 127 poin dari nilai sebelumnya yang sebesar Rp 14.535 pada 28 November 2018. Sedangkan pada 28 November 2018, kurs jual US$ 1 terhadap rupiah, yaitu Rp 14.608 dan kurs beli Rp 14.462.

    Baca: Darmin Nasution: Masih Ada Ruang untuk Penguatan Rupiah

    Angka kurs rupiah Rp 15 ribu per dolar AS pertama kali terjadi pada 3 Oktober 2018. Sedangkan pada pergerakan Jumat, 2 November kembali menyentuh Rp 14 ribu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.