IHSG Menguat 1,93 Persen Seiring Aksi Beli Asing

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA/M Agung Rajasa

    Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis, 29 November 2018, ditutup menguat sebesar 1,93 persen seiring aksi beli investor asing.

    Baca juga: BI Naikkan Suku Bunga, IHSG Diprediksi Lanjutkan Penguatan

    IHSG BEI ditutup menguat sebesar 115,92 poin atau 1,93 persen menjadi 6.107,16. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 23,49 poin atau 2,46 persen menjadi 977,66.

    Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya di Jakarta, Kamis, mengatakan investor asing yang kembali masuk ke pasar saham menjadi salah satu faktor penopang bagi IHSG.

    "IHSG kembali naik di tengah aliran dana asing yang kembali masuk. Apalagi, terdapat juga dukungan dari fundamental perekonomian nasional yang masih stabil," katanya.

    Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia yang kondusif menjaga tingkat kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.

    Berdasarkan data BEI, investor asing membukukan beli bersih atau "foreign net buy" sebesar Rp 690,90 miliar pada hari ini.

    Sementara itu tercatat, frekuensi perdagangan saham pada Kamis, sebanyak 516.724 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 11,67 miliar lembar saham senilai Rp13,22 triliun. Sebanyak 256 saham naik, 139 saham menurun, dan 129 saham tidak bergerak nilainya.

    Selain IHSG, bursa regional, di antaranya indeks Nikkei menguat 85,58 poin (0,39 persen) ke 22.262,60, indeks Hang Seng melemah 231,53 poin (0,87 persen) ke 26.451,02, dan indeks Strait Times menguat 14,96 poin (0,48 persen) ke posisi 3.109,44.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.