Ignasius Jonan: Gaji Saya Enggak Cukup untuk Beli Mobil Listrik

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengaku tak kesulitan mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) online sendiri usai mengisi SPT online di kantornya, 6 Maret 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengaku tak kesulitan mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) online sendiri usai mengisi SPT online di kantornya, 6 Maret 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM Ignasius Jonan mengatakan tak mampu membeli mobil listrik karena harganya yang mahal. Jonan mengatakan untuk sebuah mobil listrik dipatok harga Rp 5,5 miliar.

    Baca juga: Jonan Ganti 43 Pejabat di Kementerian ESDM

    "Gaji saya enggak cukup untuk beli mobil listrik Rp 5,5 miliar untuk sekelas Mercy S Class," kata dia dalam acara Pertamina Energy Forum di Raffles Hotel, Kamis, 29 November 2018.

    Meskipun belum memiliki mobil listrik, ia mengatakan setidaknya telah memiliki motor listrik yang dibelinya seharga Rp 15 juta. Menurut dia, hal itu bisa menjadi contoh untuk memulai menggunakan kendaraan listrik.

    Penggunaan mobil listrik, kata Jonan, juga mampu mengurangi impor BBM. Dia menjelaskan jika tidak menggunakan kendaraan listrik maka diprediksi pada 2025-2030 penggunaan BBM meningkat dua kali lipat.

    "Ini diharapkan supaya bisa mengurangi impor BBM, ya mobil listrik harus jalan. Ini merupakan tantangan bagi kita," kata dia.

    Ignasius Jonan mengatakan saat ini produksi minyak Indonesia sekitar 775 ribu barel per hari. Sedangkan, konsumsi minyak yang dibutuhkan masyarakat sekitar 1,3 juta barel per hari. Sampai saat ini Indonesia masih impor sebesar 400 ribu barel per hari untuk memenuhi kebutuhan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.