Google Kepincut Potensi Bisnis Game Online

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hari Guru 2018 menjadi tema Google Doodle hari ini, Ahad, 25 November 2018. (google)

    Hari Guru 2018 menjadi tema Google Doodle hari ini, Ahad, 25 November 2018. (google)

    TEMPO.CO, Singapura - Google mengungkapkan besarnya potensi industri game berbasis online di kawasan Asia Pasifik. Melalui divisi layanan daringnya, Google Play, raksasa teknologi itu pun membekali sedikitnya 30 pengembang game independen (indie), agar lihai mencari celah pengembangan bisnis.

    Simak: Mengandung Malware, Google Hapus 13 Aplikasi dari Play Store

    Direktur Pengembangan Bisnis Apps dan Games Google Play India dan Asia Tenggara, Kunal Soni, mengatakan Google tengah getol membangun ekosistem bisnis game online, khususnya jenis mobile yang biasa dimainkan melalui ponsel. "Kami ingin para kreator berkembang dan terhubung dengan penggunanya," ucap Kunal kala memaparkan program 'Indie Gaming Accelerator' di kantor Google Singapura, Rabu 28 November 2018.

    Pasar mobile game diketahui berkembang pesat hingga menjadi unduhan utama di toko daring Google, Play Store. Di Asia Tenggara, Kunal melanjutkan, terdapat 187 juta pengguna game dari total populasi 626 juta orang. Angkanya pun cukup besar di India, yakni mencapai 120 juta pengguna.

    Google pun memperkirakan nilai bisnis atau omzet pasar game daring akan melonjak, dari US$ 3,8 miliar pada tahun ini menjadi US$ 10 miliar pada 2025. "Google menjadi wadah bagi mereka yang indie untuk bisa membuat game kelas dunia," ucap Kunal.

    Merujuk riset Google dan Temasek bertajuk "e-Conomy SEA 2018", omzet perekonomian digital Indonesia yang menembus Rp 394 triliun ditunjang empat sektor utama, yakni belanja online, online travel, media online yang mencakup bisnis permainan, dan transportasi online. Adapun omzet ekonomi digital seluruh Asia Tenggara pada 2018 mencapai US$ 72 miliar.

    Program akselerasi Google untuk pengembang game indie baru kali ini digelar di Asia Tenggara. Penjaringan pesertanya sudah dimulai pada Juni 2018. Hasilnya, terdapat 30 kreator game asal India, Indonesia, Pakistan, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam yang digenjot meningkatkan kualitas produk mereka.

    Manajer Pengembangan Bisnis Google kawasan Filipina, Thailand, dan Vietnam, Vineet Tanwar, mengatakan para peserta dimentori pelaku industri game ternama, seperti dari Mountain Games Studio atau Ex-Zynga. "Ada konsultasi, bahkan ada sesi dengan investor soal cara mereka mengembangkan keuangan dan strategi mempublikasi game," ucapnya di acara yang sama.

    Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Global Google, David McLaughin, mengatakan cara berbisnis para pengembang game tak jauh berbeda dari usaha rintisan alias startup. "Kami memang memakai metodologi startup. Mereka berkembang mencari solusi permasalahan, juga bisa memilih partner yang tepat."

    Co-founder Niji Games, Nikko Soetjoadi, mengatakan pihaknya mendapat akses informasi ekslusif terkait industri game dari Google Play, usai program akselerasi. Niji merupakan satu dari tiga pengembang game indie asal Indonesia yang terpilih oleh Google. "Sekarang kami lebih percaya diri dan punya jaringan," kata dia.

    Adapun Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, mengatakan lembanganya mendorong game indie masuk ke konsol resmi. "Seperti PlayStation atau Nintendo. Bekraf mendorong agar development kits (set pengembangan software) para pembuat game dalam negeri ini bisa diimpor," katanya kepada Tempo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.