Perang Dagang Jadi Momok, Begini Proyeksi Indef Soal Ekonomi Indonesia 2019

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan Cina. Youtube.com

    Ilustrasi perang dagang Amerika Serikat dan Cina. Youtube.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Hasil studi Institute for Development of Economics and Finance atau Indef mengungkapkan bahwa perang dagang masih menjadi faktor penentu ketidakpastian ekonomi dunia pada 2019. Wakil Direktur Indef, Eko Listyanto mengatakan efek perang dagang masih akan menjadi momok bagi kondisi ekonomi Indonesia pada 2019.

    BACA: Tensi Perang Dagang Meningkat, Cina Genjot Investasi di RI

    "Perang dagang, masih menjadi musuh utama ketidakpastian global, dan tantangan perekonomian 2019 masih akan cukup besar," kata Eko dalam seminar nasional Proyeksi Ekonomi Indonesia 2019 yang bertajuk "Adu Strategi Hadapi Perang Dagang" di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu, 28 November 2018.

    Dalam studi, Indef memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada 2019 hanya mencapai 5 persen. Perkiraan tersebut tercatat lebih rendah dari dari target pemerintah dalam APBN 2019 yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,3 persen. Adapun, angka proyeksi Indef juga lebih rendah dari proyeksi IMF yang memperkirakan tumbuh hingga 5,1 persen.

    BACA: Jokowi Minta CEO Cari Peluang di Tengah Perang Dagang AS - Cina

    Eko mengatakan, selain efek perang dagang, pertumbuhan akan terhambat oleh melonjaknya harga minyak. Selain itu, depresiasi rupiah juga diperkirakan juga akan menjadi batu sandungan bagi pertumbuhan ekonomi. Efek kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat akibat normalisasi kebijakan juga akan beriringan menganjal laju pertumbuhan ekonomi.

    Eko menjelaskan, dari sisi domestik, pertumbuhan yang melambat juga disebabkan melandainya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga masih akan terhambat dari adanya melambatnya pertumbuhan investasi.

    Adapun Indef memperkirakan nilai tukar rupiah sepanjang tahun akan berada pada level Rp 15.250 per dollar Amerika Serikat. Tercatat hingga pertengahan November 2018, rupiah telah terdepresiasi sebanyak 7,86 persen.

    "Fluktuasi pada 2019 masih lebih rendah dibandingkan 2018, tapi risiko perang dagang dan harga minyak masih membayangi," kata Eko.

    Kondisi nilai tukar tersebut masih akan dipengaruhi oleh melebarnya defisit transaksi berjalan. Tercatat, transaksi berjalan terus mengalami defisit hingga kuartal ketiga 2018. Misalnya pada kuartal I defisit transaksi berada di angka 2,2 persen terhadap PDB (US$ 5,7 miliar), kuartal II defisit mencapai 3 persen (US$ 8 miliar) dan kuartal III defisit mencapai 3,37 persen (US$ 8,8 miliar).

    Adapun inflasi pada 2019, hasil studi memproyeksikan akan berada pada angka 3,5 persen. Adapun angka ini relatif rendah seiring dengan daya beli yang juga masih rendah.

    Sedangkan angka tingkat Pengangguran Terbuka atau TPT berada pada angka 3 persen. Angka ini tercatat lebih tinggi dari proyeksi pemerintah yang memperkirakan TPT mencapai 4,8 persen hingga 5,2 persen. Adapun Badan Pusat Statistik pada Agustus 2018 mengumumkan angka TPT mencapai 5,34 persen.

    Terakhir angka kemiskinan pada 2019 diprediksi oleh Indef mencapai angka 10 persen. Prediksi ini lebih tinggi dari prediksi pemerintah yang menargetkan TPT mencapai angka 8,5 persen hingga 9,5 persen.

    Baca berita tentang perang dagang lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.