Cerita Jokowi soal Upaya RI Jembatani Perang Dagang AS-Cina

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan salam saat menghadiri penganugerahan di halaman Griya Agung Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Ahad, 25 November 2018. Jokowi dianugerahi gelar kehormatan adat Komering Provinsi Sumsel yaitu Raja Balak Mangkunegara. ANTARA

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan salam saat menghadiri penganugerahan di halaman Griya Agung Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Ahad, 25 November 2018. Jokowi dianugerahi gelar kehormatan adat Komering Provinsi Sumsel yaitu Raja Balak Mangkunegara. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi bercerita mengenai kegagalan rencana Pemerintah Indonesia untuk ikut berperan dalam mengendurkan tensi perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Cina. Menurut Jokowi, usaha tersebut dilakukan ketika dirinya menghadiri pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik di Papua Nugini pada 17-18 November 2018.

    Baca: Jokowi Minta Insentif Tax Holiday Dievaluasi

    Jokowi menceritakan dalam pertemuan yang juga dikenal dengan KTT APEC ini, dua kelompok tersebut terlihat berada dalam kelompoknya masing-masing. Sedangkan Indonesia, menurut Jokowi memilih untuk berada di tengah-tengah.

    "Saya sudah sampaikan ke Menteri Luar Negeri, ngomong dengan sana dengan sini. Apa Indonesia bisa menjembatani itu. Dari pagi sampai siang, sampai setengah 3 ternyata enggak bisa, sulit," kata Jokowi dalam pidatonya di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa, 27 November 2018.

    Kemarin Bank Indonesia kembali mengelar Pertemuan Tahunan Bank Indonesia atau PTBI. Pertemuan tahunan 2018 ini digelar dengan mengambil tema "Sinergi untuk Ketahanan dan Pertumbuhan." Dalam pertemuan tahunan itu, BI memaparkan arah kebijakan ekonomi khususnya di bidang moneter pada tahun 2019.

    Dalam acara tersebut, selain Gubernur Bank Indonesia dan Presiden Jokowi, hadir pula para menteri kabinet kerja, kepala daerah, pengamat ekonomi, pelaku industri keuangan, perbankan hingga pimpinan redaksi media massa.

    Menurut Jokowi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa fenomena perang dagang adalah hal yang betul-betul terlihat. Ia mengatakan menyaksikan kondisi tersebut, bahwa memang antara China dan Amerika Serikat memang tengah bersitegang.

    "Kami menyaksikan pimpinan negara ekonomi terkuat nomor 1 dan nomor 2 dunia yaitu Cina dan AS bersitegang dan sulit dipersatukan. DI APEC kemarin mengelompok disana, mengelompok disini," kata Jokowi.

    Akibat kondisi demikian, pada pertemuan APEC yang lalu, tidak ada kesepakatan yang berhasil diambil akibat masih tingginya tensi perang dagang. Tidak adanya keputusan tersebut menjadi sejarah baru dalam 29 tahun pertemuan APEC selama ini.

    Baca: Prabowo Bandingkan Rasio Pajak di Era Soeharto dan Jokowi

    Karena itu, Jokowi mengingatkan perang dagang belum akan selesai pada tahun depan. Karena itu, Indonesia perlu waspada karena tahun depan ketidakpastian ekonomi dunia masih akan terus membayangi kondisi perekonomian dunia dan juga domestik. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...