Sempat Dipuji Jokowi, Rupiah Ditutup Melemah 14.471

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas melayani penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi mendongkrak harga makanan dan minuman olahan usai Lebaran. TEMPO/Tony Hartawan

    Petugas melayani penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta, 8 Mei 2018. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi mendongkrak harga makanan dan minuman olahan usai Lebaran. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa sore melemah sebesar 38 poin menjadi Rp14.509 dibandingkan posisi sebelumnya Rp14.471 per dolar AS.

    Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra di Jakarta mengatakan dolar AS mengalami penguatan terhadap sejumlah mata uang dunia seiring kekhawatiran pasar mengenai perang dagang kembali muncul. "Pasar terbebaninya risiko global karena harapan kesepakatan perang dagang Amerika Serikat dan China diperkirakan belum terjadi dalam waktu dekat," katanya, Selasa, 27 November 2018.

    Ariston mengatakan Presiden AS Donald Trump menyatakan tetap mengenakan tarif 200 miliar dolar AS pada impor China menjadi 25 persen dari saat ini 10 persen. "Di tengah situasi itu diperkirakan permintaan dolar AS akan meningkat karena kekhawatiran eksternal itu," katanya.

    Pengamat pasar uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk Rully Nova menambahkan fokus pasar cenderung beralih ke eksternal meski situasi di dalam negeri cukup kondusif. "Sentimen di pasar yang bervariasi, terutama dari eksternal membuat laju rupiah tertahan," katanya.

    Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini tercatat mata uang rupiah menguat menjadi Rp14.504 dibanding sebelumnya, 26 November 2018 di posisi Rp14.551 per dolar AS.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.